Dokter Penyakit Dalam : Jangan Pilih Caleg Perokok
Senin, 7 April 2014 14:11 WIB
Merokok (ANTARA News/hanmus)
"Warga jangan memilih caleg perokok. Pilih caleg yang tidak merokok untuk Indonesia yang lebih baik dan sejahtera karena di tangan mereka kebijaksanaan dan pengawasan pengendalian rokok dapat dilakukan," ujar Ari di Jakarta, Senin.
Dengan memilih caleg yang tidak merokok, sambung dia, maka sama halnya dengan berupaya untuk menekan jumlah perokok. Peraturan daerah untuk mengendalikan jumlah perokok dan pengawasan atas Perda tersebut tidak akan berjalan efektif jika lembaga legislatif diisi oleh orang-orang yang merokok.
"Bahkan yang menyedihkan justru asap rokok mendominasi di sebagian ruang-ruang publik di lembaga legislatif tersebut," kata dia.
Ari mengaku prihatin dengan tingginya angka perokok di Tanah Air yang terus meningkat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, jelas disebutkan bahwa perilaku merokok penduduk 15 tahun keatas terus meningkat dari 2007 ke 2013.
Pada 2007, jumlah perokok penduduk 15 tahun ke atas di Indonesia mencapai 34,2 persen dan meningkat menjadi 36,3 persen pada 2013. Jika melihat komposisi ternyata 64,9 persen laki-laki dan 2,1 persen perempuan yang masih menghisap rokok pada 2013.
"Yang menarik dari data Riskesdas itu, 1,4 persen perokok berumur 10-14 tahun. Juga 9,9 persen perokok pada kelompok tidak bekerja. Walaupun tidak mempunyai penghasilan tetap mereka tetap merokok."
Sedangkan rerata jumlah batang rokok yang dihisap adalah sekitar 12,3 batang, bervariasi dari yang terendah 10 batang di DI Yogyakarta dan tertinggi di Bangka Belitung (18,3 batang).
Ari menjelaskan mereka yang merokok yang jelas akan lebih banyak mengalami sakit dibandingkan dengan yang tidak merokok.
"Negara akan bangkrut kalau perokok tidak dikendalikan. Mereka yang tidak merokok patut dikasihani karena hak hidup layak mereka akan tercampak karena jumlah para perokok yang terus meningkat," jelasnya.
Oleh karena itu, lanjut dia, rakyat harus bangkit untuk tidak memilih caleg yang merokok.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Penyakit jantung dan kanker masih jadi penyebab kematian tertinggi, gaya hidup disebut faktor utama
02 February 2026 16:03 WIB
FK UMS gelar diskusi penyakit kusta ajak masyarakat ubah stigma menuju empati
27 January 2026 9:50 WIB
Diabetes melitus dominasi penyakit peserta skrining kesehatan di BPJS Semarang
15 January 2026 19:43 WIB
Pemkab Batang ingatkan masyarakat tingkatkan waspada gejala leptospirosis
12 December 2025 19:09 WIB
Masyarakat manfaatkan skrining riwayat kesehatan untuk deteksi dan cegah penyakit dini
24 November 2025 14:57 WIB
Terpopuler - Politik dan Hankam
Lihat Juga
Zulkifli Hasan Berharap Jakarta Kembali Tenang dan Damai Setelah Pilkada
02 February 2017 6:50 WIB, 2017
Agus: Saya hanya Sampaikan "Salam Hormat" ke Pak Maruf dan Pengurus PBNU
01 February 2017 19:04 WIB, 2017
" Presiden Jokowi Ingin Bertemu Saya, Tapi Dilarang Dua-Tiga di Sekeliling Beliau," Kata SBY
01 February 2017 18:35 WIB, 2017
Tim Anies-Sandi: Kegiatan PT MWS pada Masyarakat Tentang Reklamasi Pulau G Memaksakan Ambisi
01 February 2017 17:17 WIB, 2017
Setnov: NU Salalu Hadir sebagai Organisasi yang Suarakan Perdamaian dan Kesejukan
01 February 2017 16:41 WIB, 2017
Ahok Menyayangkan ada Pihak yang Mengadu Domba bahwa Dia Menghina Integritas PBNU
01 February 2017 16:12 WIB, 2017
Din: Tudingan Ahok Terhadap Maruf Bernada Sarkastik dan Sangat Menghina
01 February 2017 15:58 WIB, 2017
SBY perlu Klarifikasi Pernyataan Kuasa Hukum Ahok yang Mengkaitkan Fatwa MUI
01 February 2017 14:56 WIB, 2017