"Belum ada perkembangan berarti dalam rencana pembangunan pasar agro tersebut," kata Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah Ali Mufiz di Semarang, Jumat.

Menurut dia, salah satu penyebab belum adanya kejelasan pembangunan pasar ini yakni investor yang keberatan dengan nota kesepahaman tentang proyek tersebut.

Ia menjelaskan, investor keberatan terhadap nota kesepahaman yang disusun bersama dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama.

"Investor hanya sependapat dengan nota kesepahaman awal yang ditandatangani bersama pengelola MAJT," kata mantan Gubernur Jawa Tengah ini.

Ia menuturkan investor telah berkomunikasi dengan pengeloa MAJT serta Masjid Agung Semarang.

Namun, lanjut dia, berkaitan dengan aspek hukum, Badan Pengelola MAJT tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan sesuatu, sehingga diserahkan ke pusat.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengatakan keberadaan pasar induk agro ini nantinya akan berperan penting, khususnya dalam kaitannya dengan pembiayaan operasional Masjid Agung Jawa Tengah.

Selama ini, lanjut dia, biaya operasional Masjid Agung Jawa Tengah cukup besar, sementara tidak ada potensi pemasukan bagi masjid tersebut.

Pasar induk agro ini, kata dia, akan menjual berbagai produk unggulan pertanian Jawa Tengah.

"Hasil dari operasional pasar ini mampu memenuhi kebutuhan operasional MAJT," katanya.

Pewarta : Immanuel Citra Senjaya
Editor : Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026