"Kami meronda di sekitar saluran irigasi, terutama pada malam hari. Kalau tidak meronda, kami khawatir tidak mendapatkan air," kata seorang petani, Sastro, di Bukateja, Jumat.
Menurut dia, ronda tersebut dilakukan karena saluran irigasi Banjar Cahyana yang bersumber dari Waduk Mrica, Kabupaten Banjarnegara, telah menyusut sehingga petani sering berebut untuk mendapatkan air guna mengairi sawah mereka.
Sementara itu, seorang petani di Kemangkon, Rasidi, mengatakan surutnya saluran irigasi Banjar Cahyana mulai berlangsung sejak April silam.
Secara terpisah, Camat Bukateja Akhsan Mashruri mengakui, kekeringan yang terjadi pada musim kemarau kali ini lebih berat dibanding tahun sebelumnya.
"Selain karena kemarau, penurunan debit air yang masuk ke saluran irigasi Banjar Cahyana juga akibat sedimentasi di Waduk Mrica," katanya.
Semula, kata dia, pengaturan air saluran irigasi dilakukan pada malam hari untuk Kemangkon dan siang hari untuk Bukateja.
Menurut dia, saat ini pengaturan tersebut tidak bisa dilakukan lantaran areal persawahan di Kemangkon yang mendapat jatah pengairan pada malam hari belum seluruhnya dapat terairi karena keburu pagi sehingga salurannya telah ditutup guna dialirkan ke Bukateja.
Oleh karena itu, lanjutnya, saluran irigasi dibuka untuk Kemangkon selama empat hari dan Bukateja selama tiga hari.
Dia mengakui, sering kali petani di Bukateja tidak sabar menunggu hingga tiga hari karena sawahnya mulai mengering sehingga ada yang "nakal" dengan menutup pintu air yang menuju Kemangkon agar sawahnya terairi.
"Kami telah berusaha memberikan pemahaman kepada para petani, namun kadang kala mereka melanggarnya," kata dia menambahkan.
Terkait hal itu, dia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Purbalingga telah mengefektifkan pengaturan pengairan untuk areal persawahan di Bukateja dan Kemangkon termasuk melibatkan petugas pengairan Dinas Pekerjaan Umum dalam ronda yang digelar para petani.