Semarang (ANTARA) - KUPI Corner UIN Walisongo Semarang kembali menggelar diskusi ilmiah bertajuk Mengenal Lebih Dekat Peran Perempuan dalam Pesantren menghadirkan Hj. Nawal Nur Arafah Yasin, Pengasuh Pondok Pesantren al-Anwar 4 Rembang, di Ruang Teater Soshum UIN Walisongo Semarang, Senin (30/10).

Dalam paparan Ning Nawal, begitu biasa ia dikenal, perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang sama dan memiliki persamaan hak. Dalam hidup, keduanya kesamaan kewajiban dan kedudukan.

“Perempuan dan laki-laki, pada dasarnya mempunyai derajat yang sama, memiliki persamaan hak, kewajiban dan kesamaan kedudukan,” jelas Ning Nawal, yang juga pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar Sarang Rembang, Jawa Tengah.

Ning Nawal mengatakan, sejatinya budaya patriarki adalah warisan jahiliah yang muncul kembali setelah wafat Nabi Muhammad. Sehingga perempuan yang didiskriminasi itu bukan warisan budaya Nabi. Akan tetapi warisan budaya sebelum Islam datang yang muncul kembali.

Bagi Ning Nawal, ayat al-rijalu qawwamuna alan nisa’, bahwa makna qawwamuna memiliki arti menjaga (himayah) dan merawat (ri’ayah) keluarga.

“Artinya peran himayah dan ri’ayah ini kemudian dimaknai tidak hanya untuk laki-laki,” jelasnya.

Di pesantren, lanjut Ning Nawal, mengalami perkembangan soal pemberdayaan perempuan. Dulu, perempuan cenderung lebih banyak terlibat dalam pendidikan agama dan tugas rumah tangga. Sekarang ada peningkatan tentang pendidikan formal dan pemberdayaan perempuan.

“Di pesantren, santri perempuan mulai terlibat dalam berbagai proses pengambilan keputusan keagamaan terlibat, membekali kemampuan penulisan bagi santri perempuan, membekali keterampilan ekonomi, di pesantren juga sudah memperkenalkan kepada para santri, untuk mengembangkan dakwah,” papar Ning Nawal ketika mencontohkan pemberdayaan di pesantren.

Bahkan, jelas Ning Nawal, ada beberapa pesantren yang memberikan peran penuh bagi perempuan dalam berkhidmah. Seperti Bu Nyai Hj Umi Jamilah Hamid Baidhowi menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Al Wahdah Lasem Rembang dan Bu Nyai Hj Masriyah Amva, Pengasuh Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon.

Dalam forum diskusi yang diikuti sekitar 150 peserta itu, Ning Nawal mengingatkan kepada peserta diskusi agar tidak kebablasan tentang memahami gender. Bahwa perempuan itu tidak boleh melupakan kodratnya.

“Perempuan itu tidak boleh melupakan kodratnya, seperti untuk mau hamil, melahirkan dan menyusui anak, dan semuanya itu harus dilaksanakan dalam rangka menggapai ridha Allah”, pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Kurnia Muhajarah, Ketua KUPI Corner UIN Walisongo Semarang mengatakan kegiatan ini menjadi diskusi penutup di tahun 2023. Juga menjadi salah satu kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional 2023 yang bekerjasama dengan Yayasan Fahmina.

“Diskusi Ilmiah KUPI Corner pada tahun 2023 diselenggarakan sebanyak 5 kali, ini penutupnya, makanya diskusi kali ini, temanya sengaja didesain secara khusus untuk merefleksikan pentinya peran perempuan dalam dunia pesantren,” jelas Kurnia Muhajarah, yang juga pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang.

Ia memaparkan, KUPI Corner sudah mengoleksi 1.000 judul tentang perempuan yang diletakkan di Pojok KUPI Corner, yang berada di Gedung ICT Lantai 2 Kampus III UIN Walisongo Semarang.

“Harapannya, tentu adanya buku-buku ini akan mampu menarik minat para mahasiswa dalam penelitian kajian-kajian berperspektif KUPI”, pungkasnya. ***


Pewarta : ksm
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2024