Boyolali (ANTARA) - Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah gencar melakukan sosialisasi pengendalian penyakit mulut dan kuku, terutama di daerah dengan penularan tinggi suspek PMK pada sapi di wilayah setempat.

"Tim Disnakan telah menyosialisasikan kepada seluruh warga, diutamakan pada daerah terkena suspek PMK, digelar di Desa Madu, Mojosongo," kata Kepala Disnakan Kabupaten Boyolali Lusia Dyah Suciati di Boyolali, Selasa.

Pihaknya mengagendakan sosialisasi itu ke semua daerah yang ditemukan suspek PMK pada hewan ternak, akan tetapi prioritas ke daerah yang banyak penyebaran PMK, seperti Kecamatan Mojosongo, Musuk, Cepogo, dan Ampel.

"Kami menerjunkan tim untuk melakukan sosialisasi sehingga selain masyarakat waspada juga ikut berperan melakukan kebersihan lingkungan penanganan pada sapi-sapi. Minimal, jika tidak bisa segera melaporkan ke Disnakan melalui posko pengaduan pada nomor 0812-2832-0007," katanya.

Tim sosialisasi melakukan kegiatan itu bersama kades, pihak pemerintah kecamatan, pedagang, peternak, dan ketua RT.

Dalam kegiatan itu, masyarakat dan peternak diberikan pemahaman tentang PMK pada hewan ternak dengan penularan yang tinggi.

"Jadi jika tidak dilakukan penanganan secepatnya salah satu sapi yang terindikasi akan menular ke sapi-sapi yang lain atau kandang terdekat," katanya.

Ia mengajak masyarakat bekerja sama dalam pengendalian PMK.

Ketika warga menemukan sapi kurang sehat dan bergejala PMK harus segera melapor kepada Disnakan untuk segera ditindaklanjuti. Warga atau peternak juga harus menjaga kebersihan lingkungan, terutama kandang ternak, dengan melakukan penyemprotan disinfektan minimal dua kali per hari.

Peternak juga selalu berkoordinasi dengan tim Disnakan di lapangan. Melalui unit reaksi cepat yang terdiri atas penyuluh lapangan, puskeswan, Disnakan, dibantu PMI dan inseminator itu, dilakukan pengendalian PMK. Anggota tim URC di daerah itu yang sekitar 140 orang siap melakukan penanganan PMK di lapangan.

Ia mengaku hasil evaluasi terhadap penutupan pasar hewan tahap pertama di daerah itu, beberapa waktu lalu, ternyata penurunan suspek PMK masih sulit karena penularan penyakit itu masih terjadi. Namun, tingkat kesembuhan sapi suspek PMK cukup signifikan.

"Pasar hewan sebelum ditutup ada 41 ekor sapi sembuh PMK, tetapi sekarang meningkat ada 428 ekor sembuh. Kami lebih fokus tutup pasar penyebaran lebih terkendali. Karena pasar salah satu tempat penyebaran yang sangat tinggi," katanya.

Kepala Desa Madu Tri Haryadi mengatakan sosialisasi pengendalian PMK telah dilakukan kepada masyarakat, peternak, pedagang, tokoh masyarakat setempat.

Jumlah sapi suspek PMK di Desa Madu pada dua bulan lalu satu atau dua ekor saja. Namun, jumlah itu telah berkembang saat ni menjadi sekitar 800 ekor dari total 1.000 ekor sapi milik warga setempat.

"Kami mendata sekitar 80 persen ternak sapi di Desa Madu, terkena suspek PMK. Disnakan Boyolali kini terus melakukan penanganan hewan sapi yang terjangkit, selain peternak sendiri melakukan antisipasi," katanya.

Ia menjelaskan peternak langsung melakukan isolasi sapi suspek PMK dan tidak melakukan lalu lintas ternak di wilayah itu, sedangkan pemerintah desa berkoordinasi dengan Disnakan dalam pengobatan sapi yang suspek.

Pihaknya bersama Disnakan juga melakukan pencegahan penularan PMK, antara lain melalui pembersihan kandang, penyemprotan disinfektan setiap hari, dan melarang peternak menyentuh kandang milik peternak yang lain.

"Kami berharap dengan adanya sosialisasi para peternak dan pedagang di Desa Madu bisa memahami tentang PMK dan cara penanganan sehingga, PMK yang menyebar pada hewan ternak segera hilang dari Desa Madu ini," katanya.

 

Pewarta : Bambang Dwi Marwoto
Editor : Teguh Imam Wibowo
Copyright © ANTARA 2024