BMKG luncurkan inovasi peringatan dini potensi longsor
Rabu, 12 Februari 2020 6:55 WIB
Kepala BMKG Dwikora Karnawati saat membuka kegiatan Rekonsiliasi Penyusunan Laporan Keuangan BMKG di Hotel Lorin, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa. ANTARA/Aris Wasita
Karanganyar (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluncurkan inovasi berbentuk website peringatan dini potensi longsor berdasarkan prediksi cuaca ekstrem dengan radar atau disebut juga Sipora untuk meminimalisasi dampak dari bencana akibat cuaca.
"Sebetulnya sudah biasa BMKG memberikan peringatan dini pada cuaca ekstrem, namun kali ini inovasinya lebih dipertajam," kata Kepala BMKG Dwikora Karnawati usai membuka kegiatan Rekonsiliasi Penyusunan Laporan Keuangan BMKG di Hotel Lorin, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa.
Ia mengatakan pada peringatan tersebut apabila curah hujan mencapai 100 mm/jam dalam waktu beberapa hari maka statusnya sudah waspada, selanjutnya jika intensitas menjadi 200 mm/jam dalam waktu 3-5 hari meningkat jadi siaga bencana longsor, dan mencapai lebih dari 300 mm/jam sudah awas.
Baca juga: BMKG: Cuaca ekstrem berlangsung sampai Maret
"Nanti zona-zonanya kelihatan, zona merah di mana saja. Selanjutnya harus sudah ada evakuasi dari instansi terkait," katanya.
Terkait dengan inovasi tersebut, dikatakannya, baru akan diterapkan di wilayah DIY. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan ke depan akan diaplikasikan di seluruh wilayah Indonesia.
"Kalau sebetulnya yang saat ini sudah dikembangkan adalah Signature yang merupakan bentuk inovasi sebelumnya berdasarkan prediksi cuaca ekstrem. Di situ kami buat levelnya. Setiap level ada prediksi dampaknya dan itu sudah berjalan," katanya.
Ia mengatakan berbeda dengan website Sipora yang baru bisa diakses secara terbatas, yaitu petugas terkait, untuk Signature ini websitenya sudah bisa diakses publik.
"Di situ potensinya sudah bisa diprediksi. Pada website itu akan kelihatan zona merah di Indonesia di mana saja. Memang karena jangkauannya seluruh Indonesia maka zonasi kurang presisi dan resolusi kurang tajam tetapi sudah bisa untuk memberikan peringatan dini ada banjir dan longsor di mana saja, ini jangkauannya tingkat kabupaten," katanya.
Sedangkan website yang dikembangkan di Yogyakarta ini levelnya lebih dipertajam, yaitu hingga tingkat kecamatan bahkan desa.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan inovasi tersebut merupakan inovasi potensi longsor berbasis prediksi cuaca ekstrem menggunakan radar untuk selanjutnya dikonversi menjadi milimeter/jam.
"Jadi kalau dalam kurun waktu 3-5 hari terjadi hujan dengan intensitas 100-300 mm/jam maka berpotensi longsor, terutama jika terjadi di daerah perbukitan, lereng, dan pegunungan akan berbunyi sirene," katanya.
Langkah selanjutnya, informasi tersebut akan diteruskan ke instansi terkait, salah satunya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Disinggung mengenai alasan dikembangkannya inovasi tersebut yaitu karena di DIY banyak daerah yang terdiri dari bukit sehingga berpotensi terkena bencana tanah longsor.
"Sebelumnya ini tidak terdeteksi oleh petugas kami. Selama ini hanya meraba melalui curah hujan ekstrem kemudian banjir. Dengan ada data radar yang aktif kami saling berhubungan sehingga bisa terdeteksi terutama saat puncak hujan di Januari-Februari," katanya.
"Sebetulnya sudah biasa BMKG memberikan peringatan dini pada cuaca ekstrem, namun kali ini inovasinya lebih dipertajam," kata Kepala BMKG Dwikora Karnawati usai membuka kegiatan Rekonsiliasi Penyusunan Laporan Keuangan BMKG di Hotel Lorin, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa.
Ia mengatakan pada peringatan tersebut apabila curah hujan mencapai 100 mm/jam dalam waktu beberapa hari maka statusnya sudah waspada, selanjutnya jika intensitas menjadi 200 mm/jam dalam waktu 3-5 hari meningkat jadi siaga bencana longsor, dan mencapai lebih dari 300 mm/jam sudah awas.
Baca juga: BMKG: Cuaca ekstrem berlangsung sampai Maret
"Nanti zona-zonanya kelihatan, zona merah di mana saja. Selanjutnya harus sudah ada evakuasi dari instansi terkait," katanya.
Terkait dengan inovasi tersebut, dikatakannya, baru akan diterapkan di wilayah DIY. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan ke depan akan diaplikasikan di seluruh wilayah Indonesia.
"Kalau sebetulnya yang saat ini sudah dikembangkan adalah Signature yang merupakan bentuk inovasi sebelumnya berdasarkan prediksi cuaca ekstrem. Di situ kami buat levelnya. Setiap level ada prediksi dampaknya dan itu sudah berjalan," katanya.
Ia mengatakan berbeda dengan website Sipora yang baru bisa diakses secara terbatas, yaitu petugas terkait, untuk Signature ini websitenya sudah bisa diakses publik.
"Di situ potensinya sudah bisa diprediksi. Pada website itu akan kelihatan zona merah di Indonesia di mana saja. Memang karena jangkauannya seluruh Indonesia maka zonasi kurang presisi dan resolusi kurang tajam tetapi sudah bisa untuk memberikan peringatan dini ada banjir dan longsor di mana saja, ini jangkauannya tingkat kabupaten," katanya.
Sedangkan website yang dikembangkan di Yogyakarta ini levelnya lebih dipertajam, yaitu hingga tingkat kecamatan bahkan desa.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan inovasi tersebut merupakan inovasi potensi longsor berbasis prediksi cuaca ekstrem menggunakan radar untuk selanjutnya dikonversi menjadi milimeter/jam.
"Jadi kalau dalam kurun waktu 3-5 hari terjadi hujan dengan intensitas 100-300 mm/jam maka berpotensi longsor, terutama jika terjadi di daerah perbukitan, lereng, dan pegunungan akan berbunyi sirene," katanya.
Langkah selanjutnya, informasi tersebut akan diteruskan ke instansi terkait, salah satunya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Disinggung mengenai alasan dikembangkannya inovasi tersebut yaitu karena di DIY banyak daerah yang terdiri dari bukit sehingga berpotensi terkena bencana tanah longsor.
"Sebelumnya ini tidak terdeteksi oleh petugas kami. Selama ini hanya meraba melalui curah hujan ekstrem kemudian banjir. Dengan ada data radar yang aktif kami saling berhubungan sehingga bisa terdeteksi terutama saat puncak hujan di Januari-Februari," katanya.
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
UMS dorong inovasi pembelajaran matematika berbasis TIK untuk guru SMK Muhammadiyah Klaten
21 January 2026 13:57 WIB
Gubes UMS tawarkan inovasi teknologi IoT dan instrumen elektronik dukung pembangunan berkelanjutan
20 January 2026 15:42 WIB
UMS raih Bronze Medal IPITEx 2026, ZIMO hadirkan inovasi AI untuk pantau gizi dan aktivitas remaja
17 January 2026 16:20 WIB
Merah Putih Coffee & Eatery inovasi unit usaha koperasi penggerak ekonomi kreatif
25 December 2025 5:08 WIB
UMS dorong ekonomi sirkular Desa Mulur lewat inovasi 3D printing sampah plastik
21 December 2025 17:23 WIB
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Kantor Pertanahan Temanggung targetkan pemetaan bidang tanah 500 hektare PTSL
01 February 2026 12:27 WIB
Wali Kota Surakarta sebut pentingnya adaptasi di tengah perkembangan zaman
31 January 2026 22:02 WIB
Pemprov Jateng sediakan layanan pemulihan psikologis bagi penyintas bencana
31 January 2026 19:29 WIB