Doktor Pratama: Kesadaran keamanan siber perlu ditingkatkan terkait isu 13 juta akun dibobol
Selasa, 19 Maret 2019 17:52 WIB
Pakar keamanan siber Dr. Pratama Persadha (Foto: Dok. CISSReC)
Semarang (ANTARA) - Pakar keamanan siber Doktor Pratama Persadha memandang perlu kesadaran keamanan siber warganet dan pelaku bisnis internet terkait dengan banyaknya peretasan kata sandi (password) pada medsos dan marketplace.
Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (Communication and Information System Security Research Center/CISSReC) kepada ANTARA di Semarang, Selasa petang, mengungkapkan bahwa peretasan password pada medsos dan marketplace sudah lama terjadi.
"Namun, memang sulit mengukur seberapa banyak korbannya karena sering korban pun tidak mengetahui bahwa akunnya diretas," kata Pratama ketika menanggapi isu 13 juta pengguna Bukalapak dibobol.
Dari situs the hacker news, lanjut Pratama, diketahui bahwa Gnosticaplayers mengaku meretas 890 juta akun dari 32 situs beberapa waktu lalu. Sebanyak 13 juta akun di antaranya dari Bukalapak. Hal ini tentu sangat berbahaya, apalagi data yang dijual salah satunya adalah password.
Pihak Bukalapak sendiri mengakui bahwa ada upaya peretasan terhadap situsnnya. Akan tetapi, itu terjadi beberapa tahun lalu. Bukalapak mengklaim bahwa tidak ada data penting, seperti user password, finansial, atau informasi pribadi lainnya yang berhasil didapatkan.
Terlepas dari itu, kata Pratama, untuk antisipasi hal buruk yang tidak diinginkan oleh pengguna Bukalapak saat ini adalah mengganti seluruh password akun medsos, marketplace email, dan platform lain di internet. Pasalnya, sering penggunaan password yang sama membuat para peretas dengan mudah mengambil akun medsos dan platform lainnya.
Jika password benar, termasuk data yang dijual, menurut Pratama, akan sangat berbahaya karena sebuah akun medsos maupun marketplace bisa diganti email, alamat, bahkan bisa mengorder sendiri.
Oleh karena itu, Pratama yang juga dosen Etnografi Dunia Maya pada Program Studi S-2 Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, merekomendasikan penggantian password pada semua akun marketpalce, media sosial, dan platform lain di internet.
Menurut dia, sebenarnya paling baik ada setiap platform internet mempunyai password yang berbeda. Untuk mengakali banyaknya password, bisa digunakan password manager agar mudah mengelola password.
Pratama mencontohkan riset Pricewaterhousecoopers (PWC) Indonesia pada tahun 2018. Hasil riset menunjukkan bahwa kerugian dari sektor perbankan akibat ancaman siber mencapai ratusan juta dolar AS, hanya di Indonesia.
"Kelalaian pada faktor sederhana, seperti password, sangat mengancam, apalagi yang diretas adalah pejabat maupun infrastruktur penting di Tanah Air," kata pria kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Oleh karena itu, Pratama memandang perlu kolaborasi serius dari semua pihak, seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kominfo, provider, dan kampus.
Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (Communication and Information System Security Research Center/CISSReC) kepada ANTARA di Semarang, Selasa petang, mengungkapkan bahwa peretasan password pada medsos dan marketplace sudah lama terjadi.
"Namun, memang sulit mengukur seberapa banyak korbannya karena sering korban pun tidak mengetahui bahwa akunnya diretas," kata Pratama ketika menanggapi isu 13 juta pengguna Bukalapak dibobol.
Dari situs the hacker news, lanjut Pratama, diketahui bahwa Gnosticaplayers mengaku meretas 890 juta akun dari 32 situs beberapa waktu lalu. Sebanyak 13 juta akun di antaranya dari Bukalapak. Hal ini tentu sangat berbahaya, apalagi data yang dijual salah satunya adalah password.
Pihak Bukalapak sendiri mengakui bahwa ada upaya peretasan terhadap situsnnya. Akan tetapi, itu terjadi beberapa tahun lalu. Bukalapak mengklaim bahwa tidak ada data penting, seperti user password, finansial, atau informasi pribadi lainnya yang berhasil didapatkan.
Terlepas dari itu, kata Pratama, untuk antisipasi hal buruk yang tidak diinginkan oleh pengguna Bukalapak saat ini adalah mengganti seluruh password akun medsos, marketplace email, dan platform lain di internet. Pasalnya, sering penggunaan password yang sama membuat para peretas dengan mudah mengambil akun medsos dan platform lainnya.
Jika password benar, termasuk data yang dijual, menurut Pratama, akan sangat berbahaya karena sebuah akun medsos maupun marketplace bisa diganti email, alamat, bahkan bisa mengorder sendiri.
Oleh karena itu, Pratama yang juga dosen Etnografi Dunia Maya pada Program Studi S-2 Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, merekomendasikan penggantian password pada semua akun marketpalce, media sosial, dan platform lain di internet.
Menurut dia, sebenarnya paling baik ada setiap platform internet mempunyai password yang berbeda. Untuk mengakali banyaknya password, bisa digunakan password manager agar mudah mengelola password.
Pratama mencontohkan riset Pricewaterhousecoopers (PWC) Indonesia pada tahun 2018. Hasil riset menunjukkan bahwa kerugian dari sektor perbankan akibat ancaman siber mencapai ratusan juta dolar AS, hanya di Indonesia.
"Kelalaian pada faktor sederhana, seperti password, sangat mengancam, apalagi yang diretas adalah pejabat maupun infrastruktur penting di Tanah Air," kata pria kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Oleh karena itu, Pratama memandang perlu kolaborasi serius dari semua pihak, seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kominfo, provider, dan kampus.
Pewarta : Kliwon
Editor : Kliwon
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pakar : Google, Facebook, dan Twitter terancam diblokir tunjukkan ketegasan pemerintah
18 July 2022 13:16 WIB, 2022
Pratama: Peretasan IG pemkot tunjukkan pengamanan digital perlu dibenahi
10 October 2021 8:35 WIB, 2021
Pakar sebut human error penyebab Facebook, WhatsApp, dan Instagram down
05 October 2021 18:33 WIB, 2021
Kebocoran data pribadi gegara peladen aplikasi lama tak di-"takedown"
02 September 2021 12:04 WIB, 2021
Terpopuler - IT
Lihat Juga
Wamenag tekankan tanggung jawab moral manusia atas kecerdasan buatan di ICIMS 2026 UMS
10 February 2026 17:55 WIB
Dosen UMS soroti risiko dan standar perlindungan data pada registrasi SIM berbasis face recognition
07 February 2026 18:58 WIB
Fitur Anti-Spam dan Anti-Scam Indosat cegah ratusan juta upaya penipuan digital
26 November 2025 22:28 WIB
Mahasiswa Sekolah Vokasi Undip juara melalui AISA, Sahabat Cerdas Petani Sawit
07 November 2025 13:21 WIB