Semarang (ANTARA) -   Pakar keamanan siber Doktor Pratama Persadha menyatakan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia harus waspada terhadap sistem teknologi informasinya karena Google dan Facebook yang memiliki sistem termasuk paling kuat sedunia pun bisa terkena gangguan serangan.

"Jangan sampai kita tidak aware sehingga menjadi lemah," kata Pratama yang pernah sebagai Ketua Tim Lembaga Sandi Negara (sekarang BSSN) Pengamanan Teknologi Informasi (TI) KPU pada Pemilu 2014 kepada ANTARA di Semarang, Kamis petang.

Pratama yang juga Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (Communication and Information System Security Research Center/CISSReC) mengemukakan hal itu terkait dengan pengguna Facebook dan Instagram di Tanah Air yang mengalami permasalahan dalam pengiriman konten ke platform. Begitu pula, WhatsApp juga mengalami permasalahan yang sama.

Bagi Kominfo, lanjut Pratama, pengguna Google dan FB di Indonesia sangat besar, lebih dari 140 juta pengguna Google dan 130 juta pengguna FB, termasuk IG dan WA, bahkan termasuk terbesar di dunia.

"Kominfo bisa mengajukan pertanyaan, bagaimana dampaknya pada akun-akun masyarakat Indonesia?" kata Pratama yang juga dosen Etnografi Dunia Maya pada Program Studi S-2 Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pratama berpendapat bahwa sulit untuk memahami maintenance membuat down server karena perusahaan sekelas FB dan Google, menurut Pratama, mempunyai server test sebelum implementasi ke live server. Kalau bukan karena DDOS, mungkin terkena serangan jenis lain.

Perusahaan FB dan Google akan menjaga perusahaannya supaya tetap bisa dipercaya di muka publik dan investor sehingga akan menyampaikan hal yang tidak bikin khawatir pengguna dan investornya.

Ia mengatakan bahwa FB dan Google mempunyai mirroring server sehingga bila terjadi down akan langsung di-take over oleh mirroring server-nya. Hal itu tidak akan lama, seperti di mal, saat listrik PLN mati, otomatis genset akan menyala.

Di media sosial sangat ramai keluhan warganet terkait dengan masalah FB, Instagram, WhatsApp, dan Gmail. Hal ini, kata Pratama, menjadi tanda betapa warganet Indonesia dan dunia begitu sangat bergantung pada platform teknologi asing ini.

"Seharusnya ini menjadi momentum bagaimana pemerintah mendorong lahirnya platfrom lokal dalam negeri," kata Pratama yang juga dosen Etnografi Dunia Maya pada Program Studi S-2 Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Pewarta : Kliwon
Editor : D.Dj. Kliwantoro
Copyright © ANTARA 2024