BWCF beri nilai tambah kebudayaan Borobudur
Jumat, 23 November 2018 18:33 WIB
Tari Rapai Geleng dari Aceh menghibur peserta Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) di halaman Hotel Manohara kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Jumat (23/11). (Foto: Heru Suyitno)
Magelang (Antaranews Jateng) - Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) mengusahakan supaya Borobudur diberi makna nilai-nilai kebudayaan lebih dari fisiknya, kata budayawan Mudji Sutrisno.
"Tahun ini BWCF mengusung tema 'Traveling & Diary, Membaca Ulang Catatan Harian Pelawat Asing ke Nusantara'," kata dia di Magelang, Jumat.
Ia menuturkan dari cerita lawatan itu juga diluncurkan buku, karena BWCF selalu ada peluncuran buku, karena buku itu yang mencerahkan.
Ia menyampaikan ada generasi lisan (tutur), tulis, dan digital, yang bisa menyatukan adalah literasi itu sendiri.
"Ketika orang membaca maka temanya membaca ulang, ketika kita membaca ulang itu memaknai lagi," katanya.
Ia mengatakan pepatah asam di gunung garam di laut bertemu dalam belanga. Belanga merupakan tempat memasak.
"Jadi Borobudur Writers ini setiap kali membaca ulang, memasak lagi untuk keindonesiaan dan keindonesiaan itu adalah kultural. Ketika Indonesia terancam, ini politis sini kawan sana lawan berantem, kita harus kembali ke jalan budaya dan BWCF ini adalah jalan budaya itu," katanya.
Ia mengatakan keindonesiaan adalah yang terbaik, yang paling indah dari lokalitas, yang terbaik dari agama Bumi yang disumbangkan untuk Indonesia, untuk semakin satu sama lain menjadi bermartabat dan makin menjadi jalan peradaban bangsa.
Pada pelaksanaan BWCF hari kedua yang berlangsung di Hotel Manohara, kawasan Candi Borobudur itu ditampilkan Tari Rapai Geleng dari Aceh.
Mudji menuturkan sebenarnya identitas Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke, ketika mau menguatkan identitas Indonesia harus menampilkan kebudayaan yang ada dan pada hari pertama kemarin (22/11) menampilkan sasando dari Rote.
Pada BWCF tahun ini ada satu program baru, yakni pemutaran film di Pesantren Pabelan, film yang dialogis toleransi, makanya Indonesia kultural itu adalah rajutan dari tenun-tenun yang warna-warni kelokalan dimasukkan.
"Melalui BWCF ini kita merajut Indonesia terus-menerus, menghidupi lagi apa yang yang baik dari nilai-nilai yang berharga dari hidup ini. Kebudayaan adalah kegiatan sehari-hari yang diberi makna untuk Indonesia, maka harapannya dengan model ini kita betul-betul merajut dengan jalan kultural," katanya.
"Tahun ini BWCF mengusung tema 'Traveling & Diary, Membaca Ulang Catatan Harian Pelawat Asing ke Nusantara'," kata dia di Magelang, Jumat.
Ia menuturkan dari cerita lawatan itu juga diluncurkan buku, karena BWCF selalu ada peluncuran buku, karena buku itu yang mencerahkan.
Ia menyampaikan ada generasi lisan (tutur), tulis, dan digital, yang bisa menyatukan adalah literasi itu sendiri.
"Ketika orang membaca maka temanya membaca ulang, ketika kita membaca ulang itu memaknai lagi," katanya.
Ia mengatakan pepatah asam di gunung garam di laut bertemu dalam belanga. Belanga merupakan tempat memasak.
"Jadi Borobudur Writers ini setiap kali membaca ulang, memasak lagi untuk keindonesiaan dan keindonesiaan itu adalah kultural. Ketika Indonesia terancam, ini politis sini kawan sana lawan berantem, kita harus kembali ke jalan budaya dan BWCF ini adalah jalan budaya itu," katanya.
Ia mengatakan keindonesiaan adalah yang terbaik, yang paling indah dari lokalitas, yang terbaik dari agama Bumi yang disumbangkan untuk Indonesia, untuk semakin satu sama lain menjadi bermartabat dan makin menjadi jalan peradaban bangsa.
Pada pelaksanaan BWCF hari kedua yang berlangsung di Hotel Manohara, kawasan Candi Borobudur itu ditampilkan Tari Rapai Geleng dari Aceh.
Mudji menuturkan sebenarnya identitas Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke, ketika mau menguatkan identitas Indonesia harus menampilkan kebudayaan yang ada dan pada hari pertama kemarin (22/11) menampilkan sasando dari Rote.
Pada BWCF tahun ini ada satu program baru, yakni pemutaran film di Pesantren Pabelan, film yang dialogis toleransi, makanya Indonesia kultural itu adalah rajutan dari tenun-tenun yang warna-warni kelokalan dimasukkan.
"Melalui BWCF ini kita merajut Indonesia terus-menerus, menghidupi lagi apa yang yang baik dari nilai-nilai yang berharga dari hidup ini. Kebudayaan adalah kegiatan sehari-hari yang diberi makna untuk Indonesia, maka harapannya dengan model ini kita betul-betul merajut dengan jalan kultural," katanya.
Pewarta : Heru Suyitno
Editor : M Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
UMS lepas relawan psikososial ke Aceh Tamiang untuk dampingi korban banjir bandang
02 February 2026 18:44 WIB
LKBN ANTARA perkuat publikasi percepatan rehabilitasi pascabencana Sumatera
22 January 2026 16:41 WIB
Donasi kebencanaan di Aceh dan Sumatera lewat Baznas Surakarta capai Rp531 juta
24 December 2025 19:21 WIB
Sistem kelistrikan Aceh pulih, PLN lanjutkan pemulihan distribusi hingga ke masyarakat
20 December 2025 20:44 WIB
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Balefest 2025 Suarasa Balekambang siap hibur masyarakat pada pergantian tahun
08 December 2025 19:39 WIB
Kaligrafi China dan Arab berpadu dalam pameran Tiongkok-Indonesia di Banyumas
25 November 2025 14:41 WIB