Lampu hias berbahan limbah botol asal Solo diminati
Kamis, 8 Februari 2018 9:23 WIB
Seorang pengrajin lampu hias sedang melakukan proses produksi di Jalan Kutai Barat 5 Sumber Banjarsari Solo, Kamis (8/2) (Foto: Bambang Dwi Marwoto)
Solo (Antaranews Jateng) - Kerajinan ekonomi kreatif lampu hias dengan memanfaatkan limbah botol yang diproduksi seorang perajin di Kelurahan Banjarsari Solo banyak diminati masyarakat.
Seorang perajin Winarno (42), warga Jalan Kutai Barat 5 Sumber Banjarsari, Solo, Kamis, mengatakan kerajinan lampu hias yang diproduksi awalnya hanya iseng-iseng dengan memanfaatkan botol-botol bekas minuman, bekas makanan selai, dan ternyata banyak diminati masyarakat.
Menurut Winarno, dirinya memulai memproduksi lampu hias tersebut pada awal 2017 dan pada pertengahan tahun memproduksi secara massal. Dirinya rata-rata kemampuan produksi hingga 100 lampu per bulan.
"Kondisi pasar mulai ramai dan permintaan meningkat menjelang natal dan tahun baru. Saya mendapat pesanan lampu hias rata-rata sekitar 50 buah lampu hias per bulan," kata Winarno yang mengaku telah membuat berbagai jenis kerajinan sejak 20 tahun lalu hingga sekarang.
Harga lampu hias produksinya bervariasi mulai Rp50.000 per buah hingga Rp500 ribu per buah tergantung kualitas. Lampu hias yang banyak diminati dari bahan botol bekas minuman keras yang bermerek dari luar negeri.
Menurut dia, bahan baku limbah botol cukup mudah mencarinya, dengan memesan dari para pemulung untuk menyetorkan hasil botol bekasnya. Limbah botol kemudian direndam dalam air dan dibersihkan sampai seperti baru lagi. Botol dipotong dengan diberikan hiasan dan lampunya.
Selain itu, Winarno juga memanfaatkan limbah kayu dan tempurung untuk dibuat sebagai tempat dudukannya. Jenis lampu hias bervariasi seperti lampu duduk, gantung, dan tempel.
Bahan lain yang mendukung produksi lampu hias, Winarno menjelaskan, membutuhkan pelitur atau pernis, lem resin, pemotong kaca dan peralatan lampunya sangat muda dicari.
Dia mengatakan lampu hias produksinya dengan permintaan pasar datang selain dari Solo dan sekitarnya, juga Jakarta, Bandung, Malang sering meminta pesanan untuk dikirim.
Winarno menggunakan cara pemasaran melalui online dan mengikuti pameran-pameran yang digelar oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan pemda setempat, sehingga banyak pengunjung memesan. Pembeli ada yang memesan secara perorangan maupun dengan partai besar untuk dijual lagi.
"Omzet dari hasil membuat lampu hias rata-rata sekitar 50 buah per bulan," katanya pula.
Seorang perajin Winarno (42), warga Jalan Kutai Barat 5 Sumber Banjarsari, Solo, Kamis, mengatakan kerajinan lampu hias yang diproduksi awalnya hanya iseng-iseng dengan memanfaatkan botol-botol bekas minuman, bekas makanan selai, dan ternyata banyak diminati masyarakat.
Menurut Winarno, dirinya memulai memproduksi lampu hias tersebut pada awal 2017 dan pada pertengahan tahun memproduksi secara massal. Dirinya rata-rata kemampuan produksi hingga 100 lampu per bulan.
"Kondisi pasar mulai ramai dan permintaan meningkat menjelang natal dan tahun baru. Saya mendapat pesanan lampu hias rata-rata sekitar 50 buah lampu hias per bulan," kata Winarno yang mengaku telah membuat berbagai jenis kerajinan sejak 20 tahun lalu hingga sekarang.
Harga lampu hias produksinya bervariasi mulai Rp50.000 per buah hingga Rp500 ribu per buah tergantung kualitas. Lampu hias yang banyak diminati dari bahan botol bekas minuman keras yang bermerek dari luar negeri.
Menurut dia, bahan baku limbah botol cukup mudah mencarinya, dengan memesan dari para pemulung untuk menyetorkan hasil botol bekasnya. Limbah botol kemudian direndam dalam air dan dibersihkan sampai seperti baru lagi. Botol dipotong dengan diberikan hiasan dan lampunya.
Selain itu, Winarno juga memanfaatkan limbah kayu dan tempurung untuk dibuat sebagai tempat dudukannya. Jenis lampu hias bervariasi seperti lampu duduk, gantung, dan tempel.
Bahan lain yang mendukung produksi lampu hias, Winarno menjelaskan, membutuhkan pelitur atau pernis, lem resin, pemotong kaca dan peralatan lampunya sangat muda dicari.
Dia mengatakan lampu hias produksinya dengan permintaan pasar datang selain dari Solo dan sekitarnya, juga Jakarta, Bandung, Malang sering meminta pesanan untuk dikirim.
Winarno menggunakan cara pemasaran melalui online dan mengikuti pameran-pameran yang digelar oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan pemda setempat, sehingga banyak pengunjung memesan. Pembeli ada yang memesan secara perorangan maupun dengan partai besar untuk dijual lagi.
"Omzet dari hasil membuat lampu hias rata-rata sekitar 50 buah per bulan," katanya pula.
Pewarta : Bambang Dwi Marwoto
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pekalongan optimalkan 27 lampu pengatur lalu lintas tekan kepadatan arus kendaraan
10 March 2026 14:13 WIB
Pemkot Pekalongan lakukan perbaikan 13 ribu lampu PJU di 1.182 titik
30 November 2023 8:34 WIB, 2023