Petani diminta gunakan metode tanam "Jajar Legowo"
Senin, 8 Januari 2018 13:50 WIB
Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Jawa Tengah Harwanto. (Foto: Sumarwoto)
Cilacap, (Antaranews Jateng) - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Jawa Tengah meminta petani untuk menggunakan inovasi teknologi pertanian berupa metode tanam "jajar legowo" serta bibit padi varietas unggul, kata Kepala BPTP Jateng Harwanto.
"Saya berharap teman-teman petani di sini, selain menggunakan varietas unggul baru juga menggunakan sistem `jajar legowo` yang sudah diakui dapat meningkatkan produktivitas tanaman kita," katanya usai mengikuti panen bersama Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian Momon Rusmono di Desa Binangun, Kecamatan Binangun, Cilacap, Senin.
Terkait dengan bibit padi varietas unggul baru, dia mengatakan salah satunya Inpari 33 yang merupakan hasil inovasi anak bangsa yang harus dikembangkan secara masif.
Menurut dia, Inpari 33 memiliki kelebihan berupa tahan terhadap serangan wereng batang cokelat.
Selain itu, kata dia, produktivitas Inpari 33 bisa mencapai 9,3 ton gabah kering panen per hektare seperti yang ditanam petani di Desa Binangun.
Produktivitas tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan varietas-varietas di bawahnya seperi Situ Bagendit dan Ciherang yang berkisar 6--7 ton GKP per hektare.
"Ini bentuk-bentuk inovasi yang harus dikembangkan secara masif di lapangan. Inovasi ini sudah diaplikasikan di sebagian lahan sawah Desa Binangun," tegasnya.
Ia mengatakan jika penerapan inovasi teknologi pertanian tersebut lebih dimasifkan di Cilacap, surplus beras di kabupaten itu akan lebih banyak lagi.
Dengan demikian, kata dia, ketahanan pangan akan tercapai dengan lebih baik lagi.
"Saya berharap teman-teman petani di sini, selain menggunakan varietas unggul baru juga menggunakan sistem `jajar legowo` yang sudah diakui dapat meningkatkan produktivitas tanaman kita," katanya usai mengikuti panen bersama Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian Momon Rusmono di Desa Binangun, Kecamatan Binangun, Cilacap, Senin.
Terkait dengan bibit padi varietas unggul baru, dia mengatakan salah satunya Inpari 33 yang merupakan hasil inovasi anak bangsa yang harus dikembangkan secara masif.
Menurut dia, Inpari 33 memiliki kelebihan berupa tahan terhadap serangan wereng batang cokelat.
Selain itu, kata dia, produktivitas Inpari 33 bisa mencapai 9,3 ton gabah kering panen per hektare seperti yang ditanam petani di Desa Binangun.
Produktivitas tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan varietas-varietas di bawahnya seperi Situ Bagendit dan Ciherang yang berkisar 6--7 ton GKP per hektare.
"Ini bentuk-bentuk inovasi yang harus dikembangkan secara masif di lapangan. Inovasi ini sudah diaplikasikan di sebagian lahan sawah Desa Binangun," tegasnya.
Ia mengatakan jika penerapan inovasi teknologi pertanian tersebut lebih dimasifkan di Cilacap, surplus beras di kabupaten itu akan lebih banyak lagi.
Dengan demikian, kata dia, ketahanan pangan akan tercapai dengan lebih baik lagi.
Pewarta : Sumarwoto
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB
Dosen UIN Walisongo paparkan metode melihat hilal yang lebih efisien dan tepat sasaran
30 October 2025 12:03 WIB