Semarang, ANTARA JATENG - Han Ay Lie, putri salah satu pendiri Universitas Diponegoro Semarang Han Bing Hoo, S.H. bakal dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Teknik.

"Bersama mendiang Prof. Imam Bardjo dan Prof. Soedarto, ayahanda Han Ay Lie membidani Undip," kata Rektor Undip Prof. Yos Johan Utama di Semarang, Selasa.

Meskipun sang ayah berlatar belakang hukum, kata Yos, ternyata Han Ay Lie lebih tertarik menekuni teknik sipil yang bidang kerjanya didominasi laki-laki.

Namun, Guru Besar Fakultas Hukum (FH) Undip itu bersyukur karena kehadiran Han Ay Lie sebagai guru besar teknik sipil semakin menambah deretan guru besar yang ada di bidangn itu.

"Guru besar teknik sipil baru ada dua. Itu pun sudah lama, terakhir 2008. Istilahnya, `pecah endoq` setelah sekian lama akhirnya lahir guru besar baru," katanya.

Sementara itu, Prof. Han Ay Lie mengakui sosok Rektor Undip sedemikian dekat dengan sang ayah karena pernah menjadi mahasiswanya ketika di FH Undip.

"Ayah membidani universitas (Undip) sekitar 1956. Saya kembali meneruskan rintisan ayah saya," kata sosok kelahiran Semarang, 9 November 1956 tersebut.

Sebagai satu-satunya keluarga besar Han, istri dari Ir Andy Siswanto itu sejak kecil terlatih fasih tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, Inggris, dan Belanda.

"Saya masih inget kata-kata ayah saya. Ketika itu Mas Yos (Rektor, red.) bertamu. Ayah saya bilang, suatu hari dia akan jadi rektormu," kata Han Ay Lie.

Berkaitan dengan pidato pengukuhan guru besarnya, ia tergerak dengan maraknya problem lingkungan yang dihadapi masyarakat, termasuk dampak semen.

"Masyarakat Indonesia, khususnya masih cukup bergantung dengan struktur beton. Kalau di luar negeri mengandalkan baja. Beton butuh semen untuk membuat bangunan," katanya.

Persoalannya, kata dia, komponen beton mengakibatkan pencemaran lingkungan karena semen dalam proses produksinya menghasilkan CO2, serta polusi debu.

"Dengan penelitian ini, saya ingin menekan pencemaran lingkungan yang diakibatkan semen. Bagaimana menggunakan semen secara efisien," pungkasnya.

Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor :
Copyright © ANTARA 2026