1.000 Warga Lereng Merapi Ikuti Sadranan
Sabtu, 13 Mei 2017 20:20 WIB
Warga mengikuti upacara tradisi Sadranan di tempat pemakaman umum Puroloyo Desa Sukabumi Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Sabtu (13/5). (Foto:ANTARAJATENG.COM/Bambang Dwi Marwoto)
Boyolali, ANTARA JATENG - Sekitar 1.000 warga lereng Gunung Merapi di Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu, mengikuti upacara tradisi Sadranan yang digelar setiap tahun, menjelang Bulan Puasa.
Warga Desa Sukobumi sebelum mengikuti upacara ritual itu, sejak Sabtu pagi sudah datang ke tempat pemakaman umum Puroloyo Desa Sukabumi untuk melakukan gotong-royong membersihkan sampah di makam leluhurnya.
Warga kemudian bersama sanak-saudaranya datang kembali ke tempat pemakaman dengan membawa tenong berbentuk bundar berisi aneka makanan untuk disedekahkan kepada sesama masyarakat usai Sadranan.
Mereka berkumpul di halaman tempat pemakaman dan berdoa dengan dipimpin oleh Kiai Haji M, Suparno yang juga tokoh masyarakat setempat, Mereka mendoakan para leluhur yang dimakamkan di tempat itu. Setelah itu, warga membuka tenong yang berisi aneka makanan untuk dibagikan ke masyarakat.
Suparno mengatakan Sadranan merupakan agenda tahunan yang dilakukan masyarakat, setiap menjelang Ramadhan. Mereka yang merantau ke daerah lain, pulang kampung untuk mengikuti upacara tersebut.
"Warga mendoakan para leluhur dan bersyukur atas limpahan kemakmuran dari Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan," kata Suparno.
Ia menjelaskan pada zaman dahulu, tradisi Sadranan cara berdakwah Walisongo. Para wali mengutus muridnya yang bernama Kiai Haji Ibrahim ke lereng Merapi. Ia wafat dan dimakamkan di tempat pemakaman umum Puroloyo Desa Sukobumi.
Suparno mengatakan tradisi tersebut juga mempererat persatuan dan kegotong-royongan masyarakat. Hal itu sebagai kearifan yang sampai sekarang dilestarikan masyarakat setempat.
Pelaksanaan tradisi tersebut, katanya, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, seiring dengan membaiknya kesejahteraan masyarakat. Jumlah tenong yang dibawa oleh masyarakat 830 tenong, dengan isinya yang semakin bernilai.
"Zaman dahulu tenong yang dibawa masyarakat dari bahan anyaman bambu dan sekarang sudah banyak yang dari bahan stenlis yang harganya mahal. Bahkan, isi tenong dahulu berupa hasil bumi, sekarang makanan yang memiliki kualitas gizi tinggi," katanya.
Nilai isi setiap tenong yang dibawa warga sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Dalam tradisi itu, setiap pintu rumah warga terbuka untuk menyambut tamu-tamu yang bersilatuhrahim.
"Warga mengeluarkan semua hidangan untuk menyambut tamu yang hadir di rumahnya, dan mereka selalu menjaga kebersamaan dan gotong-royong yang dilaksanakan untuk kehidupan sehari-hari," katanya
Camat Cepogo Agus Darmawan mengatakan tradisi Sadranan memberikan semangat kehidupan masyarakat melalui pekerjaan masing-masing.
Ia mengakui berbagai potensi masyarakat di daerah itu Cepogo sebagai sangat hebat. Hal itu diwujudkan dengan upaya mereka mengemas tradisi Sadranan melalui kirab budaya yang sekaligus mempromosikan pariwisata melalui kesenian untuk 15 desa di kecamatan setempat.
Joko, salah satu warga Dukuh Tunggulsari, Desa Sukabumi, mengatakan masyarakat setempat yang bekerja di daerah lain pulang untuk mengikuti Sadranan.
Setelah mengikuti upacara Sadranan di pemakaman desa setempat, warga pulang ke rumah masing-masing untuk menyiapkan sajian berbagai makanan untuk menjamu tamu yang melakukan silaturahim.
"Jika banyak tamu yang berkunjung ke rumahnya, warga yakin akan banyak juga rejekinya," kata Joko.
Warga Desa Sukobumi sebelum mengikuti upacara ritual itu, sejak Sabtu pagi sudah datang ke tempat pemakaman umum Puroloyo Desa Sukabumi untuk melakukan gotong-royong membersihkan sampah di makam leluhurnya.
Warga kemudian bersama sanak-saudaranya datang kembali ke tempat pemakaman dengan membawa tenong berbentuk bundar berisi aneka makanan untuk disedekahkan kepada sesama masyarakat usai Sadranan.
Mereka berkumpul di halaman tempat pemakaman dan berdoa dengan dipimpin oleh Kiai Haji M, Suparno yang juga tokoh masyarakat setempat, Mereka mendoakan para leluhur yang dimakamkan di tempat itu. Setelah itu, warga membuka tenong yang berisi aneka makanan untuk dibagikan ke masyarakat.
Suparno mengatakan Sadranan merupakan agenda tahunan yang dilakukan masyarakat, setiap menjelang Ramadhan. Mereka yang merantau ke daerah lain, pulang kampung untuk mengikuti upacara tersebut.
"Warga mendoakan para leluhur dan bersyukur atas limpahan kemakmuran dari Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan," kata Suparno.
Ia menjelaskan pada zaman dahulu, tradisi Sadranan cara berdakwah Walisongo. Para wali mengutus muridnya yang bernama Kiai Haji Ibrahim ke lereng Merapi. Ia wafat dan dimakamkan di tempat pemakaman umum Puroloyo Desa Sukobumi.
Suparno mengatakan tradisi tersebut juga mempererat persatuan dan kegotong-royongan masyarakat. Hal itu sebagai kearifan yang sampai sekarang dilestarikan masyarakat setempat.
Pelaksanaan tradisi tersebut, katanya, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, seiring dengan membaiknya kesejahteraan masyarakat. Jumlah tenong yang dibawa oleh masyarakat 830 tenong, dengan isinya yang semakin bernilai.
"Zaman dahulu tenong yang dibawa masyarakat dari bahan anyaman bambu dan sekarang sudah banyak yang dari bahan stenlis yang harganya mahal. Bahkan, isi tenong dahulu berupa hasil bumi, sekarang makanan yang memiliki kualitas gizi tinggi," katanya.
Nilai isi setiap tenong yang dibawa warga sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Dalam tradisi itu, setiap pintu rumah warga terbuka untuk menyambut tamu-tamu yang bersilatuhrahim.
"Warga mengeluarkan semua hidangan untuk menyambut tamu yang hadir di rumahnya, dan mereka selalu menjaga kebersamaan dan gotong-royong yang dilaksanakan untuk kehidupan sehari-hari," katanya
Camat Cepogo Agus Darmawan mengatakan tradisi Sadranan memberikan semangat kehidupan masyarakat melalui pekerjaan masing-masing.
Ia mengakui berbagai potensi masyarakat di daerah itu Cepogo sebagai sangat hebat. Hal itu diwujudkan dengan upaya mereka mengemas tradisi Sadranan melalui kirab budaya yang sekaligus mempromosikan pariwisata melalui kesenian untuk 15 desa di kecamatan setempat.
Joko, salah satu warga Dukuh Tunggulsari, Desa Sukabumi, mengatakan masyarakat setempat yang bekerja di daerah lain pulang untuk mengikuti Sadranan.
Setelah mengikuti upacara Sadranan di pemakaman desa setempat, warga pulang ke rumah masing-masing untuk menyiapkan sajian berbagai makanan untuk menjamu tamu yang melakukan silaturahim.
"Jika banyak tamu yang berkunjung ke rumahnya, warga yakin akan banyak juga rejekinya," kata Joko.
Pewarta : Bambang Dwi Marwoto
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Fanny Soegi hingga Ndarboy sukses hibur warga Boyolali pada perhelatan Keroncong Svaranusa 2026
06 September 2026 13:26 WIB
Tegal Night Carnival 2026 ramaikan peringatan HUT ke- 81 Republik Indonesia
23 August 2026 22:33 WIB
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
Tegal Night Carnival 2026 ramaikan peringatan HUT ke- 81 Republik Indonesia
23 August 2026 22:33 WIB
Pemkot Surakarta sebut pelestarian seni budaya perkuat nilai toleransi dan keberagaman
01 August 2026 21:16 WIB