Astronom Temukan Komet Tak Berekor Pertama
Senin, 2 Mei 2016 9:17 WIB
Gambaran artistik komet baru C/2014 S3, yang juga disebut komet Manx, yang ditemukan tahun 2014 oleh Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System (Pan-STARRS) yang dirilis 29 April 2016. (M. Kornmesser/ESO/Handout via Reuters)
Cape Canaveral, Florida, Antara Jateng - Para astronom menemukan jenis komet tak berekor pertama yang komposisinya bisa memberikan petunjuk tentang pertanyaan lama mengenai pembentukan dan evolusi tata surya menurut hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Science Advances.
Komet yang disebut "Manx", dinamai seperti jenis kucing tak berekor, terbentuk dari materi berbatu yang normalnya ditemukan di dekat Bumi. Sedang kebanyakan komet terbentuk dari es dan senyawa beku lainnya dan terbentuk di bagian tata surya yang dingin dan jauh dari jangkauan.
Para peneliti meyakini komet yang baru ditemukan itu terbentuk di daerah yang sama dengan Bumi, kemudian tertendang ke halaman belakang tata surya seperti ketapel gravitasi saat planet-planet berdesakan mencari posisi.
Para ilmuwan yang terlibat dalam penemuan itu sekarang ingin mempelajari bagaimana komet Manx bisa ada, yang akan membantu menyelesaikan debat mengenai kapan dan bagaimana sebenarnya tata surya bisa sampai ke konfigurasi yang sekarang.
"Tergantung berapa banyak yang kami temukan, kami akan tahu apakah planet-planet raksasa menari di seluruh penjuru tata surya ketika mereka muda, atau apakah mereka tumbuh dalam diam tanpa banyak bergerak," kata salah satu penulis makalah, Olivier Hainaut, astronom European Southern Observatory di Jerman.
Komet baru yang disebut C/2014 S3 itu ditemukan tahun 2014 oleh Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System (Pan-STARRS), jaringan teleskop yang mengamati langit malam untuk melihat komet, asteroid, dan benda angkasa lain yang bergerak cepat.
Komet yang datang dari kawasan yang sama seperti Manx biasanya menumbuhkan ekor terang ketika mendekati matahari, hasil penguapan es pada badan mereka, dan berkilauan di bawah sinar matahari yang dipantulkan.
Tapi C/2014 S3 gelap dan pada hakekatnya tak berekor ketika terlihat dua kali lebih jauh dari matahari ke Bumi.
Analisis kemudian menunjukkan bahwa alih-alih es yang biasa ditemukan pada komet, Manx mengandung material serupa asteroid berbatu di sabuk antara Mars dan Jupiter.
Dan C/2014 S3 tampak murni, indikasi bahwa dia sudah berada di tempat terdingin tata surya dalam waktu lama, kata astronom dari University of Hawaii, Karen Meech, penulis utama makalah.
Temuan komet Manx lainnya akan membantu para ilmuwan memperhalus model komputer yang digunakan untuk simulasi formasi tata surya, kata Meech seperti dikutip kantor berita Reuters.
Komet yang disebut "Manx", dinamai seperti jenis kucing tak berekor, terbentuk dari materi berbatu yang normalnya ditemukan di dekat Bumi. Sedang kebanyakan komet terbentuk dari es dan senyawa beku lainnya dan terbentuk di bagian tata surya yang dingin dan jauh dari jangkauan.
Para peneliti meyakini komet yang baru ditemukan itu terbentuk di daerah yang sama dengan Bumi, kemudian tertendang ke halaman belakang tata surya seperti ketapel gravitasi saat planet-planet berdesakan mencari posisi.
Para ilmuwan yang terlibat dalam penemuan itu sekarang ingin mempelajari bagaimana komet Manx bisa ada, yang akan membantu menyelesaikan debat mengenai kapan dan bagaimana sebenarnya tata surya bisa sampai ke konfigurasi yang sekarang.
"Tergantung berapa banyak yang kami temukan, kami akan tahu apakah planet-planet raksasa menari di seluruh penjuru tata surya ketika mereka muda, atau apakah mereka tumbuh dalam diam tanpa banyak bergerak," kata salah satu penulis makalah, Olivier Hainaut, astronom European Southern Observatory di Jerman.
Komet baru yang disebut C/2014 S3 itu ditemukan tahun 2014 oleh Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System (Pan-STARRS), jaringan teleskop yang mengamati langit malam untuk melihat komet, asteroid, dan benda angkasa lain yang bergerak cepat.
Komet yang datang dari kawasan yang sama seperti Manx biasanya menumbuhkan ekor terang ketika mendekati matahari, hasil penguapan es pada badan mereka, dan berkilauan di bawah sinar matahari yang dipantulkan.
Tapi C/2014 S3 gelap dan pada hakekatnya tak berekor ketika terlihat dua kali lebih jauh dari matahari ke Bumi.
Analisis kemudian menunjukkan bahwa alih-alih es yang biasa ditemukan pada komet, Manx mengandung material serupa asteroid berbatu di sabuk antara Mars dan Jupiter.
Dan C/2014 S3 tampak murni, indikasi bahwa dia sudah berada di tempat terdingin tata surya dalam waktu lama, kata astronom dari University of Hawaii, Karen Meech, penulis utama makalah.
Temuan komet Manx lainnya akan membantu para ilmuwan memperhalus model komputer yang digunakan untuk simulasi formasi tata surya, kata Meech seperti dikutip kantor berita Reuters.
Pewarta : Antaranews
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tim gabungan temukan tiga santriwati terseret arus Sungai Lusi Blora meninggal
12 December 2025 18:58 WIB
Tim SAR gabungan temukan dua korban tanah longsor Banjarnegara di hari ketujuh
23 November 2025 8:38 WIB
Tim SAR gabungan kembali temukan dua korban tanah longsor Cilacap pada hari ketujuh
19 November 2025 14:08 WIB
Tim SAR gabungan temukan satu korban bencana longsor di Desa Cibeunying Cilacap
14 November 2025 14:29 WIB
SAR temukan dua mahasiswa UIN Semarang korban tenggelam di Sungai Jolinggo Kendal
05 November 2025 13:38 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Pangeran asal Brunei Darussalam temui Ahmad Luthfi, jajaki investasi energi terbarukan di Jateng
06 February 2026 7:55 WIB
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB