Peneliti Temukan Fosil Bunga Pertama
Selasa, 16 Februari 2016 11:19 WIB
Fosil bunga dari keluarga Asterid yang berusia antara 20 dan 30 juta tahun. Temuan fosil bunga itu menurut para peneliti menunjukkan bahwa banyak keluarga-keluarga tumbuhan yang terkait bisa jadi sudah berevolusi pada periode Cretaceous Akhir di huta
Menurut hasil penelitian di jurnal Nature Plants, fosil bunga-bunga berusia 20 sampai 30 juta tahun yang ditemukan terlindung sempurna dalam sebongkah batu ambar itu berasal dari keluarga asterid, bagian dari genus Strychnos, yang memunculkan racun-racun paling terkenal seperti strychnine dan curare.
"Spesimen-spesimen cantik, fosil bunga-bunga yang terjaga sempurna, yang pada satu titik dilahirkan oleh tumbuh-tumbuhan yang hidup di hutan tropis lembab dengan pepohonan besar dan kecil, tumbuhan rambat, palem, rerumputan dan vegetasi lain," kata George Poinar, Jr., ahli tumbuhan dan binatang yang terlindung dalam ambar dari College of Science di Oregon State University.
"Spesimen seperti ini yang memberi kita wawasan mengenai ekologi ekosistem di masa lalu," katanya seperti dilansir laman resmi Oregon State University.
Ia mengatakan spesimen-spesimen itu menunjukkan bahwa asterid sudah berevolusi berjuta-juta tahun lalu.
Asterid, menurut para peneliti yang terlibat dalam studi itu, termasuk tumbuhan paling beragam dan penting di Bumi dengan 10 ordo, 98 keluarga dan sekitar 80.000 spesies.
Mereka mewakili sekitar sepertiga dari keragaman angiospermae atau tumbuhan berbunga.
Dan satu genus kuno Strychnos, yang sekarang terbukti tak terpisahkan dengan racun, sudah ada jutaan tahun sebelum manusia muncul di planet ini.
"Spesies dari genus Strychnos hampir semuanya beracun," kata Poinar.
"Setiap tumbuhan punya alkaloid sendiri dengan beragam efek. Beberapa lebih beracun dari yang lain, dan mungkin mereka berhasil karena racun mereka menjadi pertahanan melawan herbivora," katanya.
"Sekarang beberapa dari racun ini terbukti membawa manfaat dan bahkan punya sifat obat."
Ekstrak dari dua tumbuhan genus Strychnos yang menjadi terkenal yakni strychnine dan curare.
Strychnine sudah puluhan tahun digunakan sebagai pestisida, dan sering digunakan sebagai komponen mematikan dalam racun tikus.
Dalam dosis kecil, racun yang menginspirasi Norman Bates untuk membunuh ibunya serta teman lelakinya dalam film "Psycho" itu bisa meningkatkan aktivitas mental dan otot.
Sementara Curare ditampilkan sebagai senjata pembunuh dalam satu novel Sherlock Holmes dan dalam dosis rendah bisa digunakan sebagai pengendur otot dalam pembedahan.
Sekarang ada sekitar 200 spesies tumbuhan Strychnos di seluruh dunia, dalam bentuk beragam mulai dari belukar sampai pohon dan tumbuhan rambat, kebanyakan di daerah tropis.
Tumbuh-tumbuhan itu masih dipelajari sifat obatnya, antara lain untuk penanganan infeksi cacing parasit dan pengobatan malaria.
"Spesimen-spesimen cantik, fosil bunga-bunga yang terjaga sempurna, yang pada satu titik dilahirkan oleh tumbuh-tumbuhan yang hidup di hutan tropis lembab dengan pepohonan besar dan kecil, tumbuhan rambat, palem, rerumputan dan vegetasi lain," kata George Poinar, Jr., ahli tumbuhan dan binatang yang terlindung dalam ambar dari College of Science di Oregon State University.
"Spesimen seperti ini yang memberi kita wawasan mengenai ekologi ekosistem di masa lalu," katanya seperti dilansir laman resmi Oregon State University.
Ia mengatakan spesimen-spesimen itu menunjukkan bahwa asterid sudah berevolusi berjuta-juta tahun lalu.
Asterid, menurut para peneliti yang terlibat dalam studi itu, termasuk tumbuhan paling beragam dan penting di Bumi dengan 10 ordo, 98 keluarga dan sekitar 80.000 spesies.
Mereka mewakili sekitar sepertiga dari keragaman angiospermae atau tumbuhan berbunga.
Dan satu genus kuno Strychnos, yang sekarang terbukti tak terpisahkan dengan racun, sudah ada jutaan tahun sebelum manusia muncul di planet ini.
"Spesies dari genus Strychnos hampir semuanya beracun," kata Poinar.
"Setiap tumbuhan punya alkaloid sendiri dengan beragam efek. Beberapa lebih beracun dari yang lain, dan mungkin mereka berhasil karena racun mereka menjadi pertahanan melawan herbivora," katanya.
"Sekarang beberapa dari racun ini terbukti membawa manfaat dan bahkan punya sifat obat."
Ekstrak dari dua tumbuhan genus Strychnos yang menjadi terkenal yakni strychnine dan curare.
Strychnine sudah puluhan tahun digunakan sebagai pestisida, dan sering digunakan sebagai komponen mematikan dalam racun tikus.
Dalam dosis kecil, racun yang menginspirasi Norman Bates untuk membunuh ibunya serta teman lelakinya dalam film "Psycho" itu bisa meningkatkan aktivitas mental dan otot.
Sementara Curare ditampilkan sebagai senjata pembunuh dalam satu novel Sherlock Holmes dan dalam dosis rendah bisa digunakan sebagai pengendur otot dalam pembedahan.
Sekarang ada sekitar 200 spesies tumbuhan Strychnos di seluruh dunia, dalam bentuk beragam mulai dari belukar sampai pohon dan tumbuhan rambat, kebanyakan di daerah tropis.
Tumbuh-tumbuhan itu masih dipelajari sifat obatnya, antara lain untuk penanganan infeksi cacing parasit dan pengobatan malaria.
Pewarta : Antaranews
Editor : Totok Marwoto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tim gabungan temukan tiga santriwati terseret arus Sungai Lusi Blora meninggal
12 December 2025 18:58 WIB
Tim SAR gabungan temukan dua korban tanah longsor Banjarnegara di hari ketujuh
23 November 2025 8:38 WIB
Tim SAR gabungan kembali temukan dua korban tanah longsor Cilacap pada hari ketujuh
19 November 2025 14:08 WIB
Tim SAR gabungan temukan satu korban bencana longsor di Desa Cibeunying Cilacap
14 November 2025 14:29 WIB
Terpopuler - Sains dan Rekayasa
Lihat Juga
Pangeran asal Brunei Darussalam temui Ahmad Luthfi, jajaki investasi energi terbarukan di Jateng
06 February 2026 7:55 WIB
Peneliti ungkap spesies baru Nepenthes dari Kalbar, terpantau awal via medsos
24 January 2026 14:38 WIB
Mahasiswa SV Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi jadi biocleaner
11 November 2025 8:32 WIB
Tahun depan Pemkot Semarang siapkan bus listrik koridor Mangkang - Penggaron
06 November 2025 21:32 WIB