Raul Castro Minta Obama Hapus Embargo Kuba
Kamis, 16 Juli 2015 17:17 WIB
Presiden Kuba Raul Castro. (FOTO ANTARA/REUTERS/Javier Galeano/Pool/djo/11)
Castro menilai embargo, yang diberlakukan terhadap Kuba sejak 1962, telah menjadi batu sandungan utama antara kedua negara (Kuba-AS) menuju "normalisasi" .
Namun, di Amerika Serikat, hanya Kongres yang memiliki kewenangan untuk melakukan langkah penghapusan embargo, dan Kongres AS yang mayoritas anggotanya dari Partai Republik telah menolak permintaan Obama untuk mencabut embargo itu.
Pernyataan Castro itu disampaikan menjelang pembentukan kembali secara formal hubungan diplomatik dan pembukaan kedutaan antara kedua negara pada Senin (20/7).
Langkah pembentukan kembali hubungan diplomatik Kuba-AS itu akan memerlukan dialog pada tingkat yang lebih tinggi.
Dan hal itu hanya langkah pertama dalam suatu proses yang kompleks, di mana salah satu rintangan terbesar kedepannya adalah mengakhiri embargo perdagangan dan keuangan yang diterapkan AS terhadap Kuba.
"Kami berharap (Obama) akan terus menggunakan kekuasaan eksekutif untuk mencabut aspek kebijakan (embargo) ini, yang menyebabkan kerusakan dan penderitaan bagi rakyat kami ," kata Castro pada penutupan pertama dari pertemuan dua kali setahun Partai Majelis Nasional di Kuba.
Pernyataan Castro itu dilaporkan oleh portal berita resmi Kuba Cubadebate karena media lain tidak diberi akses ke acara tersebut.
Pembukaan kembali kedutaan akan berujung pada keputusan bersejarah oleh Obama dan Castro pada 17 Desember untuk memulai langkah normalisasi hubungan antara Kuba dan AS.
"Senin (20/7) akan menjadi suatu tahap baru yang panjang dan rumit dalam perjalanan menuju normalisasi hubungan (Kuba-AS), yang perlu menemukan solusi untuk masalah-masalah yang telah terakumulasi selama lebih dari lima dekade dan mempengaruhi hubungan antara negara dan masyarakat kita," kata Castro sebagaimana dikutip dari AFP.
Castro menegaskan bahwa, bagaimanapun, untuk "menormalkan hubungan" Kuba-AS maka blokade harus dihapus.
Kalangan konservatif AS dan anggota masyarakat pengasingan Kuba telah meminta Obama untuk menghentikan pemulihan hubungan dengan Kuba sampai Pemerintah Kuba melakukan reformasi politik dan hak asasi manusia di negara itu.
Namun, di Amerika Serikat, hanya Kongres yang memiliki kewenangan untuk melakukan langkah penghapusan embargo, dan Kongres AS yang mayoritas anggotanya dari Partai Republik telah menolak permintaan Obama untuk mencabut embargo itu.
Pernyataan Castro itu disampaikan menjelang pembentukan kembali secara formal hubungan diplomatik dan pembukaan kedutaan antara kedua negara pada Senin (20/7).
Langkah pembentukan kembali hubungan diplomatik Kuba-AS itu akan memerlukan dialog pada tingkat yang lebih tinggi.
Dan hal itu hanya langkah pertama dalam suatu proses yang kompleks, di mana salah satu rintangan terbesar kedepannya adalah mengakhiri embargo perdagangan dan keuangan yang diterapkan AS terhadap Kuba.
"Kami berharap (Obama) akan terus menggunakan kekuasaan eksekutif untuk mencabut aspek kebijakan (embargo) ini, yang menyebabkan kerusakan dan penderitaan bagi rakyat kami ," kata Castro pada penutupan pertama dari pertemuan dua kali setahun Partai Majelis Nasional di Kuba.
Pernyataan Castro itu dilaporkan oleh portal berita resmi Kuba Cubadebate karena media lain tidak diberi akses ke acara tersebut.
Pembukaan kembali kedutaan akan berujung pada keputusan bersejarah oleh Obama dan Castro pada 17 Desember untuk memulai langkah normalisasi hubungan antara Kuba dan AS.
"Senin (20/7) akan menjadi suatu tahap baru yang panjang dan rumit dalam perjalanan menuju normalisasi hubungan (Kuba-AS), yang perlu menemukan solusi untuk masalah-masalah yang telah terakumulasi selama lebih dari lima dekade dan mempengaruhi hubungan antara negara dan masyarakat kita," kata Castro sebagaimana dikutip dari AFP.
Castro menegaskan bahwa, bagaimanapun, untuk "menormalkan hubungan" Kuba-AS maka blokade harus dihapus.
Kalangan konservatif AS dan anggota masyarakat pengasingan Kuba telah meminta Obama untuk menghentikan pemulihan hubungan dengan Kuba sampai Pemerintah Kuba melakukan reformasi politik dan hak asasi manusia di negara itu.
Pewarta : Antaranews
Editor : Mugiyanto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Presiden Sevilla Marah Setelah Pemain Sayap Vitolo Bergabung dengan Atletico
13 July 2017 13:23 WIB, 2017
PM Kanada Justin Trudeau Tak Mau Cabut Pujiannya Kepada Fidel Castro
28 November 2016 14:24 WIB, 2016
Ini Reaksi Presiden Terpilih Donald Trump Mengetahui Kematian Fidel Castro
27 November 2016 7:57 WIB, 2016
Ini Fakta Fidel Castro: Pidato 7 Jam Sampai 634 Kali Lolos dari Pembunuhan
26 November 2016 15:08 WIB, 2016
Fidel Castro "El Comandante" Pergi Meninggalkan Kuba untuk Selamanya
26 November 2016 15:03 WIB, 2016
Terpopuler - Gadget
Lihat Juga
Prancis: Keputusan Donald Trump "Risiko Serius" bagi Tatanan Perdagangan Global
01 February 2017 6:29 WIB, 2017