
Prof. Eko: Program Mobil Murah Menyesatkan

"Jelas tidak murah karena harganya Rp100 jutaan. Jelas tak ramah lingkungan karena menggunakan bensin bersubsidi," katanya.
Berbicara di hadapan dosen dan koleganya di Jurusan Arsitektur Undip, Senin (12/5) sore, Eko yang pada Juni 2014 memasuki masa purnatugas itu menyatakan mobil dengan julukan LCGC (low cost green car) itu semakin memperparah kemacetan arus lalu lintas, terutama di kota-kota besar.
Setiap kota dengan penduduk tiga juta jiwa, katanya, seharusnya punya angkutan cepat dan massal. Akan tetapi, katanya lagi, ketika Gubernur DKI Joko Widodo akan membangun MRT, Pemerintah Pusat malah meluncurkan LCGC.
LCGC itu, menurut mantan Ketua Forum Rektor Indonesia itu, ternyata juga lebih banyak dibeli oleh keluarga kaya, bukan kalangan menengah bawah, padahal sebelum diluncurkan, pejabat pemerintah menyatakan sasaran LCGC adalah kota kecil, perdesaan, dan konsumen menengah ke bawah..
Pemerintah melabeli LCGC karena tanpa memungut Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), seperti mobil jenis lainnya.
Kendati demikian, melihat material yang melekat pada mobil tersebut, mulai dari kapasitas mesin, fitur, jok, dan aksesori lain, mobil ini tidak bisa disebut murah karena konsumen tidak mendapatkan kelebihan lain, kecuali bebas dari PPnBM.
Mobil berlabel LCGC, yang diluncurkan pada 2013 dan didukung merek-merek yang selama ini merajai pasar otonomif di Indonesia, sampai saat ini terjual sekitar 80.000 unit. Sebagian besar mobil berlabel LCGC itu terjual di Jawa, terutama di kawasan Jabodetabek.
Pewarta: Achmad Zaenal M
Editor:
Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
