Logo Header Antaranews Jateng

Boyolali Bebas Pekerja Anak pada 2015

Senin, 5 Mei 2014 18:16 WIB
Image Print
Ilustrasi. Seorang anak bekerja mencari barang yang bisa dijual di tempat pembuangan sampah

"Pada 2014 ini, kami akan menarik 270 anak dari pekerja anak di tempat terburuk di Kabupaten Boyolali dan 2015 menargetkan terbebas dari bekerja anak," katanya di Boyolali, Senin.

Menurut dia, sebanyak 270 anak tersebut rata-rata dari kalangan keluarga tidak mampu. Mereka akan dikumpulkan di dalam shelter untuk mendapatkan pendampingan dari tim, dan mendapatkan fasilitas pendidikan secara gratis.

"Mereka dikumpulkan dalam sheter selama sebulan untuk diberikan pemahaman, tentang pentingnya pendidikan usia sekolah," katanya.
Menurut dia, setelah diberikan pemahaman tentang pendidikan, mereka akan disalurkan atau disekolahkan di sekolah dasar/Madrasah atau SMP/Tsanawiyah, maupun kursus ketrampilan secara gratis .

Setelah ditarik dari lokasi pekerjaannya, kata dia, mereka selain mendapatkan sekolah gratis, juga akan menerima uang saku, dan kebutuhan pendidikan lainnya. Pihaknya penempatan siswa di sekolah yang ditunjuk tidak bisa ditolak dengan alasan apapun.

Bahkan, Bupati Boyolali Seno Samodro juga merekomendasi kepada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga untuk menerima siswa dari keluarga kurang mampu tersebut.

Menurut Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan, Dinsosnakertran Boyolali, Joko Santoso, dari jumlah anak tersebut yang rata-rata berusia antara 13 hingga 17 tahun yang sebagian berasal dari wilayah Kecamatan Selo dan Cepogo.
"Mereka mayoritas masih masa usia pendidikan tetapi tidak sekolah dan kebanyakan bekerja sebagai buruh di sektor perkebunan dan pembantu rumah tangga," kata Joko Santoso.

Menurut dia, Boyolali dipercaya dalam pengelolaan program penarikan pekerja anak dari bentuk-bentuk pekerjaan terburuk oleh Kemenakertrans karena dinilai berhasil dalam program 2013.

Pemkab Boyolali 2013 memperoleh anggaran dari Kemenakertrans untuk 150 anak. Realisisasi kegiatan itu, sebanyak 135 anak atau sekitar 90 persen berhasil mengenyam pendidikan, sedangkan sisanya 15 anak tidak melanjutkan sekolah.

Artinya, kata dia, sebanyak 15 anak tersebut kembali kepada orang tuanya, ada yang dinikahkan, menjadi anak jalanan, dan sebagian bekerja buruh di kebun maupun ladang.



Pewarta:
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026