
Daerah Tujuan Wisata Perlu Dioptimalkan
.jpg)
Joko Suratno di Semarang, Kamis, mengatakan, Kota Semarang termasuk daerah yang rendah di sektor wisata.
"Batalnya pengembangan bandara mestinya bukan kendala kita untuk lemah di sektor wisata, meskipun saya akui rencana revitalisasi Ahmad Yani tersebut memberikan harapan yaitu meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke sini," ujarnya.
Joko berharap pemerintah bisa mengoptimalkan pembangunan destinasi wisata, infrastruktur, serta aksesibilitas, dengan demikian, Semarang maupun daerah lain di Jawa Tengah tetap memiliki daya tarik tersendiri untuk mendatangkan wisatawan domestik maupun asing.
"Sebetulnya Semarang memiliki destinasi wisata yang cukup banyak, hanya saja kurang dioptimalkan, awalnya saya berpikir dengan pengembangan bandara paling tidak orang akan tertarik untuk berkunjung ke kota ini atau daerah-daerah sekitarnya," katanya.
Ia mengakui, dengan batalnya pengembangan Bandara A Yani ini sebenarnya banyak yang menyayangkan karena bandara merupakan salah satu pintu masuk yang strategis bagi para wisatawan.
Sementara itu, Manajer Pemasaran Garuda Indonesia Semarang, Herri Darmawan mengatakan, pihaknya bisa menerima keputusan pemerintah terkait gagalnya revitalisasi bandara tersebut.
"Bagaimanapun juga pemerintah tetap memiliki kajian tersendiri kenapa revitalisasi bandara ini gagal dilakukan, yang pasti kami mengikuti peraturan tersebut," ujarnya.
Diakuinya, sejauh ini kondisi Bandara Ahmad Yani yang cenderung sempit tidak terlalu mempengaruhi jumlah penumpang Garuda Indonesia baik rute Jakarta, Surabaya maupun Denpasar.
"Selama ini terutama rute Semarang-Jakarta okupansinya selalu tinggi, sekitar 80 persen, jadi saya pikir jumlah ini cukup bagus," jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pembangunan Bandara Ahmad Yani yang mendekati peletakan batu pertama gagal dilaksanakan karena Menteri BUMN Dahlan Iskan menganggap bandara tersebut tidak layak dikembangkan.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
.jpg)