
"Cyber Army" Merupakan Kebutuhan Mendesak
Senin, 4 November 2013 15:14 WIB

"Saya kira itu (cyber army, red.) memang sesuatu yang dibutuhkan mendesak oleh pemerintah, terutama dalam kaitannya dengan kejahatan siber," katanya saat dihubungi dari Purwokerto, Senin.
Menurut dia, pembentukan satuan khusus tentara siber ini bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan karena di dalamnya terdiri kalangan militer, yakni TNI-AD, TNI-AU, dan TNI-AL, hingga kalangan sipil.
"Kita memang membutuhkan tenaga atau sumber daya manusia untuk menangani serangan siber. Saat ini kita memang belum memilikinya secara khusus," kata dia yang sedang mengikuti kegiatan di Kuching, Malaysia.
Dalam hal ini, kata dia, Indonesia belum memiliki tentara yang memiliki keahlian di bidang siber.
"Hanya saja dalam menjalankan tugasnya nanti, jangan sampai tumpang tindih dengan lembaga-lembaga yang sudah ada," katanya.
Kendati demikian, Sabiq mengatakan bahwa saat ini yang paling mengkhawatirkan bagi kedaulatan bangsa Indonesia adalah kejahatan ekonomi korporatokrasi yang mengeruk kekayaan negara untuk kepentingan asing, bukan untuk kemakmuran rakyat.
Oleh karena itu, kata dia, perang melawan kejahatan ekonomi korporatokrasi lebih diperlukan dibanding pembentukan satuan khusus tentara siber.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
