Logo Header Antaranews Jateng

Jurnalis Semarang Protes Kekerasan Terhadap Pers

Rabu, 17 Oktober 2012 13:58 WIB
Image Print
Ilustrasi (Foto ANTARA)

Aksi yang berlangsung di Bundaran Jalan Pahlawan Semarang itu dilakukan dengan menutup mulut menggunakan lakban, kemudian merebahkan membentuk lingkaran dengan tumpukan kamera yang diletakkan di tengah-tengahnya.

Selain pewarta foto, beberapa jurnalis dari media cetak, elektronik, dan media "online" lainnya juga nampak ikut bergabung dalam aksi keprihatinan, sekaligus protes atas kekerasan yang menimpa insan pers itu.

Seperti diwartakan, sejumlah wartawan yang akan mengambil gambar di lokasi jatuhnya pesawat Hawk 200 milik TNI AU di Riau, Selasa (16/10), dihadang oleh aparat, dan beberapa di antaranya mengalami tindak kekerasan.

Wartawan yang mengalami tindak kekerasan, antara lain Didik, fotografer Harian Riau Pos dan fotografer LKBN ANTARA Riau FB Anggoro. Tidak hanya dipukul, kamera sejumlah wartawan juga disita oleh oknum TNI AU.

Aksi solidaritas yang digelar di Semarang itu kemudian dilanjutkan dengan teatrikal yang menggambarkan kekerasan oknum aparat terhadap wartawan yang tengah meliput, diiringi pekik lalu "Serdadu" milik Iwan Fals.

Beberapa spanduk bernada protes atas kekerasan juga dipasang, antara lain bertuliskan "Tangkap Oknum TNI AU", "Adili Oknum TNI AU Yang Sok Jagoan", "Save Journalist", "Wartawan Harus Dilindungi, Bukan Digebuki".

Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang Arief Nugroho mengatakan aksi keprihatinan atas kekerasan yang dialami wartawan itu merupakan bentuk solidaritas terhadap jurnalis yang menjadi korban kekerasan.

"Setidaknya ada enam jurnalis di Riau kemarin (16/10) yang mendapat tindak kekerasan dari oknum TNI AU. Apalagi, yang melakukan kekerasan ini perwira, bukan tamtama dan bintara. Sangat keterlaluan," katanya.

Ia mengatakan tindakan kekerasan yang dialami wartawan di Riau itu sangat melukai seluruh jurnalis, bahkan aksi solidaritas serupa juga digelar serentak hari ini (17/10) di berbagai wilayah di Indonesia.

"Aksi ini menjadi bentuk kekecewaan kami. Sebab, hingga semalam belum ada permintaan maaf atas tindak kekerasan yang menimpa wartawan di Riau. Teman-teman (wartawan, red.) berhak memprotes," katanya.

Terlebih lagi, kata Arif, peliputan pesawat milik TNI AU yang jatuh di Riau tersebut tidak mengganggu stabilitas dan keamanan nasional sehingga tidak ada alasan untuk melarang wartawan melakukan tugasnya.

Sebelumnya, puluhan jurnalis dari berbagai media di Kota Semarang juga menggelar aksi keprihatinan menentang kekerasan terhadap wartawan, Selasa (16/10) malam, di halaman Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng.



Pewarta:
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026