
Indonesia Susun "Grand Design" Pembangunan Keluarga
Kamis, 4 Oktober 2012 13:00 WIB

"Hal itu sejalan dengan `Master Plan` pembangunan kesejahteraan sosial `Indonesia Sejahtera 2025`. Kita melihat peran sentral keluarga dalam membangun kohesivitas masyarakat," katanya seperti disampaikan Tenaga Ahli Mensos bidang Tata Kelola Pemerintahan dan Kehumasan Drs Sapto Waluyo MSc, di Jakarta, Kamis.
Sapto Waluyo menambahkan, Mensos menghadiri "The 5th East Asia Ministerial Forum on Families" yang diikuti 15 negara di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam pada 2-3 Oktober 2012 bersama utusan lainnya dari Indonesia, yakni lembaga yang terkait dengan masalah keluarga. Delegasi Indonesia terdiri atas pejabat Kemenko Kesra, Kemensos, Kemeneg PP dan PA, serta BKKBN.
Mensos mengatakan bahwa di Indonesia dapat dilihat peran sentral keluarga dalam membangun kohesivitas masyarakat.
"Gejala tawuran pelajar dan konflik di berbagai daerah merupakan indikasi melemahnya kontrol keluarga, di samping faktor sosial-ekonomi-politik lainnya," katanya.
Mensos Salim dalam pertemuan itu juga menyampaikan laporan kemajuan Indonesia dalam kebijakan pemberdayaan keluarga.
Disebutnya pula bahwa bukan hanya Kemensos yang menjalankan program terkait keluarga, namun juga Kemeneg Pemberdayaan Perempuan serta BKKBN.
Menurut Sapto Waluyo, Mensos juga mengkritisi dan menyepakati 10 butir pernyataan bersama yang memperkuat komitmen untuk penerapan kebijakan/program keseimbangan keluarga bekerja.
"Kebijakan untuk menyediakan lingkungan ramah keluarga di tempat bekerja, menyediakan cuti hamil, fasilitas menyusui dan tempat penitipan anak, merupakan salah satu yang harus didorong," katanya.
Di samping itu, kata dia, juga memperkuat individu kepala keluarga dengan beragam keterampilan, pengelolaan waktu, "parenting", pengelolaan stres dan kepedulian terhadap semua anggota keluarga.
Pertemuan berikutnya pada 2014, untuk mengevaluasi pelaksanaan program dan kerja sama kawasan akan dilaksanakan di Korea Selatan.
Pewarta: -
Editor:
Totok Marwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
