
Kudus Bebas Daging Gelonggongan

"Pengawasan distribusi daging sapi dan kerbau dari luar kota diperketat untuk mencegah masuknya daging 'gelonggongan'. Hasilnya hingga pekan ini belum ditemukan daging tersebut," kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Kudus Budi Santoso melalui Kepala Bidang Peternakan Sa'adiyah, Rabu.
Ditemui di sela-sela inspeksi mendadak (sidak) daging di Pasar Bitingan Kudus, ia mengatakan peredaran daging ayam potong yang disuntik juga belum ditemukan peredarannya.
"Gelonggongan" merupakan praktik dagang curang yakni dengan cara memasukkan puluhan liter air ke perut ternak sebelum hewan ini dipotong. Tujuannya untuk mendapatkan tambahan berat daging dari air tersebut.
Ia mengakui sempat menemukan adanya hati sapi yang diserang penyakit cacing hati ketika melakukan sidak di rumah pemotongan hewan beberapa waktu lalu.
Pengawasan tidak hanya dilakukan terhadap daging sapi maupun kerbau, melainkan juga daging ayam potong untuk mencegah kasus ayam bangkai atau dikenal "tiren" (mati kemarin) serta ayam yang disuntik dengan air untuk mendapatkan bobot yang lebih berat.
Ia memastikan, ayam bangkai tidak akan berani diedarkan di Kudus, karena petugas rutin melakukan pengawasan.
"Sedangkan ayam suntik diperkirakan juga mulai jarang terjadi, karena masyarakat diimbau untuk mewaspadainya dan tidak membeli daging ayam yang disuntik karena tidak sehat," ujarnya.
Menurut dia, masyarakat juga harus jeli dan hati-hati dalam memilih daging, terutama daging sapi agar tidak tertipu.
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
