
Rupiah Kamis Pagi dalam Area Stabil

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Kamis pagi melemah tipis satu poin menjadi Rp9.440 dibanding posisi sebelumnya Rp9.439 per dolar AS.
"Nilai tukar rupiah relatif stabil terhadap dolar AS, meski the Fed mensinyalkan untuk menunda pelonggaran kuantitatif (QE) ke-3, hal itu dinilai kurang diharapkan pelaku pasar," kata analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan, hasil keputusan the Fed tadi malam belum akan merealisasikan injeksi likuiditas yang diharapkan investor. Sebagaimana FOMC (Federal Open Market Committee) sebelumnya, the Fed menjanjikan akan menginjeksi likuiditas baru (QE3) jika ekonomi melemah.
"The Fed masih akan melihat perkembangan ekonomi AS hingga September mendatang ketika program `operation twist` berakhir September mendatang," kata dia.
Pengamat Monex Investindo Futures Johanes Ginting menambahkan, keputusan the Fed yang berhenti menawarkan stimulus moneter tambahan menguatkan dolar AS.
Ia mengatakan, investor juga masih cemas atas tentangan keras dari Jerman terhadap dilanjutkannya pembelian obligasi atau pemberian lisensi perbankan pada dana bantuan zona Eropa.
"Kalangan analis dan pelaku pasar memperkirakan dampak dari pembelian obligasi hanya akan berdampak sementara tanpa adanya pemulihan ekonomi yang berkelanjutan di Eropa," kata dia.
Menurut dia, lemahnya pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran yang menyentuh rekor tinggi di kawasan euro nampaknya akan membuat peluang pemangkasan suku bunga oleh ECB dalam waktu dekat lebih besar, membuat sentimen terhadap nilai tukar berisko tetap "bearish".
Pewarta: -
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
