
Fenomena Embun Upas Dieng Mulai Muncul

"Sejumlah wisatawan dari Jakarta dan Yogyakarta menghubungi kami untuk memastikan kemunculan fenomena embun upas di Dieng. Mereka ingin melihat secara langsung fenomena tersebut," kata staf Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Banjarnegara Wilayah Dieng Arif Rahman di Banjarnegara, Rabu.
Menurut dia, fenomena embun upas ini biasa terjadi pada puncak musim kemarau sekitar Juli-Agustus terutama pada dinihari saat suhu udara di bawah 0 derajat Celcius.
Dalam hal ini, kata dia, embun membeku seperti butiran es berukuran kecil sehingga menyerupai hamparan salju yang menutupi tanaman.
"Biasanya kalau siang hari terasa sangat panas, malam harinya akan terasa sangat dingin hingga suhunya di bawah 0 derajat Celcius sehingga muncul embun upas," katanya.
Dalam tiga hari terakhir, kata dia, embun upas paling tebal terjadi pada 30 Juli karena ketebalannya mencapai 1 centimeter akibat suhu udara pada dinihari mencapai minus 2 derajat Celcius.
Ia mengatakan, embun upas yang mulai muncul pada dinihari akan meleleh sekitar pukul 07.00 WIB akibat terkena sinar matahari.
"Wisatawan lokal pun banyak yang berdatangan ke Dieng untuk menyaksikan fenomena embun upas di pagi hari," katanya.
Meskipun menjadi daya tarik bagi wisatawan, fenomena embun upas yang muncul pada puncak musim kemarau merupakan musuh petani di Dataran Tinggi Dieng karena dapat merusak tanaman kentang.
Seperti diwartakan sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan (Dintankannak) Banjarnegara Dwi Atmadji mengatakan, sekitar tujuh hingga sembilan hektare tanaman kentang yang dilaporkan terkena dampak embun upas.
"Sebanyak 3,9 hektare di antaranya berada di Desa Dieng Kulon. Tanaman kentang yang telah terkena dampak embun upas ini berusia 35 hingga 80 hari setelah tanam," katanya.
Ia mengatakan, embun upas berdampak negatif terhadap tanaman kentang terutaman yang berusia di bawah 70 hari karena tidak tahan terhadap udara yang sangat dingin sehingga akan layu, membusuk, dan akhirnya mati.
Berdasarkan data Dintankannak Banjarnegara, fenomena embun upas pada 2011 berlangsung dua kali, yakni pada Juni dan Agustus.
Embun upas yang turun di Dataran Tinggi Dieng pada Juni 2011 mengakibatkan 12 hektare tanaman kentang rusak dan lima hektare di antaranya puso, sedangkan serangan pada Juli 2011, merusak 13 hektare tanaman kentang, enam hektare di antaranya puso.
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
