Logo Header Antaranews Jateng

Khatib ingatkan korupsi musuh utama peradaban

Jumat, 20 Maret 2026 10:11 WIB
Image Print
Ribuan warga Muhammadiyah Shalat Idul Fitri di Halaman Setda Kabupaten Temanggung, Jumat (20/3/2026). ANTARA/Heru Suyitno

Temanggung (ANTARA) - Khatib Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Halaman Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Temanggung, Romadlon, mengemukakan bahwa dalam bingkai Islam yang berkeadaban, umat harus dengan lantang dan tegas menyatakan korupsi sebagai musuh utama peradaban.

"Korupsi adalah rayap yang memakan tiang-tiang penyangga kesejahteraan umat, menyebabkan yang hak menjadi dan yang batil seolah menjadi hak," katanya di Temanggung, Provinsi Jawa Tengah, Jumat, pada Shalat Id diikuti sekitar 3.000 warga Muhammadiyah setempat.

Ia mengemukakan korupsi bukan sekadar tindak pidana pencurian uang negara, melainkan suatu pengkhianatan terhadap Tuhan dan perusakan tatanan keadilan sosial.

Idul Fitri yang bermakna kembali kepada kesucian, kata dia, seharusnya melahirkan rasa muak dalam diri manusia terhadap segala bentuk praktik kotor, suap-menyuap, dan gratifikasi.

"Oleh karena itu, momentum 1 Syawal ini harus kita jadikan sebagai saat untuk melakukan hijrah kolektif," katanya.

Menurut dia, hijrah bukan sekadar berpindah tempat secara fisik, melainkan perpindahan mentalitas dan perilaku secara berjamaah menjadi lebih baik.

"Kita harus berhijrah dari mentalitas koruptif menuju mentalitas amanah, dari budaya 'aji mumpung' menuju budaya integritas dan dari sikap apatis menuju kepedulian kolektif. Hijrah kolektif ini menuntut kita untuk membangun sistem sosial yang transparan dan akuntabel, dimulai dari kejujuran dalam keluarga, transparansi di organisasi hingga integritas dalam negara," katanya.

Ia mengemukakan tentang kesadaran terhadap tantangan besar peradaban dan bahaya laten korupsi.

"Lantas dari manakah perubahan besar ini harus dimulai. Jawabannya ada pada unit terkecil namun paling fundamental dalam struktur masyarakat, yaitu keluarga dan pendidikan," ujarnya.

Ia menyebut keluarga sebagai rahim pertama, tempat nilai-nilai kejujuran disemai, sedangkan pendidikan sebagai kawah, tempat karakter kemajuan ditempa.

"Mustahil kita mendambakan sebuah bangsa yang bersih dan beradab jika di dalam rumah tangga kita belum menanamkan benih-benih integritas yang kuat," katanya.

Menurut dia, pendidikan berkeadaban adalah pendidikan yang mengutamakan adab di atas nilai akademik dan mengajarkan bahwa lebih mulia mendapatkan nilai kecil dengan kejujuran dari pada mendapatkan nilai sempurna dengan kecurangan.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026