Logo Header Antaranews Jateng

Pemprov Jateng genjot pendapatan dan efisiensi belanja

Selasa, 10 Februari 2026 22:49 WIB
Image Print
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat Rapat Koordinasi Pelaksanaan Operasional Kegiatan (POK) APBD TA. 2025 dan Percepatan Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2026 Provinsi Jateng, di Semarang, Selasa (10/2/2026). (ANTARA/HO-Pemprov Jateng)

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat menyusun strategi penguatan fiskal, guna memastikan pelaksanaan APBD Tahun Anggaran (TA) 2026 berjalan optimal.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, di Semarang, Selasa, mengatakan bahwa realisasi belanja daerah Provinsi Jateng pada 2025 merupakan yang terbaik di Pulau Jawa.

Hal itu disampaikan pada Rapat Koordinasi Pelaksanaan Operasional Kegiatan (POK) APBD TA. 2025 dan Percepatan Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2026 Provinsi Jateng.

Berdasarkan data hingga 31 Desember 2025, realisasi pendapatan daerah tercatat sebesar Rp23,76 triliun, sementara realisasi belanja mencapai Rp23,87 triliun.

Meski terdapat selisih belanja sebesar Rp109,24 miliar, namun berkat realisasi pembiayaan neto sebesar Rp576,95 miliar, posisi rekening kas daerah masih terjaga positif dengan sisa anggaran sebesar Rp467,70 miliar.

Dengan kondisi fiskal 2025, ia menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memperketat efisiensi dengan menyusun program-program yang menjadi skala prioritas pada 2026.

"Hal ini agar efisiensi belanja dan pengelolaan dana transfer daerah tetap terjaga," kata mantan Kapolda Jateng itu.

Ia menekankan pentingnya penggunaan anggaran yang tepat sasaran untuk mencegah terjadinya defisit maupun pemborosan anggaran, serta menyoroti piutang pajak dari sektor opsen pajak yang harus segera dituntaskan.

Selain efisiensi internal, Luthfi juga mendorong agar badan usaha milik daerah (BUMD) mengoptimalkan kinerjanya dan harus berorientasi pada hasil nyata bagi pendapatan asli daerah (PAD).

"BUMD harus memberikan kontribusi nyata bagi Pemprov, bukan untuk Gubernur atau Sekda secara pribadi. Orientasinya harus hasil untuk kemakmuran masyarakat," katanya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Jateng Sumarno menambahkan bahwa akselerasi pendapatan dan penajaman efisiensi belanja menjadi kunci kesehatan anggaran.

Ia mengakui adanya tantangan berat di sektor Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) akibat kondisi ekonomi makro dan kebijakan nasional terkait kendaraan listrik yang membebaskan biaya BBNKB.

Untuk menjaga keseimbangan fiskal di tahun 2026, Pemprov Jateng berencana melakukan penyesuaian anggaran sebesar Rp814 miliar melalui dua jalur.

Pertama, optimalisasi pendapatan yang berfokus pada peningkatan kepatuhan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Pajak Alat Berat, dan Pajak Air Permukaan. Sektor-sektor ini akan diakselerasi melalui kolaborasi lintas sektor.

Kedua, peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja dengan menginstruksikan seluruh OPD untuk menyisir kembali program kerja tanpa mengabaikan capaian target kinerja utama.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026