Logo Header Antaranews Jateng

Gajah Ini Mati Diracun

Rabu, 2 Mei 2012 12:13 WIB
Image Print
Inilah gajah sumatera betina yang tewas diracun di areal perkebunan kelapa sawit di Desa Krueng Ayon, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, Selasa (1/5). Gajah betina yang berusia 18 tahun itu diduga tewas akibat di racun pemilik

Kapala seksi Perlindungan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Aceh Jaya, Armidi, di Calang, Rabu, mengatakan gajah mati diracun itu di perbatasan dengan Krueng Beukah itu berkelamin betina diperkirakan berusia 18 tahun -- usia produktif bagi gajah sumatera.

Gajah betina itu juga diketahui tengah menyusui anak namun tidak diketahui keberadaan anak gajah itu. Gajah hanya melahirkan satu anak tiap masa kebuntingan terjadi dan menyusui anak untuk masa sekitar dua tahun.

Dari anus induk gajah itu, keluar usus dan darah. Mulutnya juga mengeluarkan buih serta badannya biru, dan tewas begitu saja walau sempat ditolong petugas setempat. Disinyalir gajah itu mati diracun pemilik lahan kelapa sawit itu.

"Sejak tujuh tahun terakhir gangguan gajah liar di Aceh Jaya sangat tinggi, kami bersama BKSDA dan Conservation Response Unit Fauna-Flora International terus berupaya mengatasi konflik satwa dengan warga," kata dia.

Gajah sumatera telah menjadi penghuni habitat alamiahnya di sana sejak dahulu kala. Manusia baru datang dan bermukim kemudian setelah areal itu ditetapkan menjadi lokasi transmigrasi dengan kebun-kebun kelapa sawitnya.

Oleh manusia, gajah-gajah itu selalu dianggap menjadi hama dan pengancam. Mereka sering dikatakan menjadi perusak puluhan hektare tanaman pertanian dan perkebunan milik warga seperti padi, pinang, kelapa, karet dan pisang.

Selain di kecamatan Sampoiniet, gangguan satwa dilindungi itu juga terjadi di Kecamatan Jaya dan beberapa daerah lainnya.

Sementara itu Komandan Ranger CRU Sampoiniet, Mukhtar, mengatakan gajah sumatera yang mati di tengah lintas badan jalan SP Empat dan SP lima itu telah dikuburkan.

(KR-IRW)

Editor: Ade Marboen



Pewarta:
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026