
Gajah Ini Mati Diracun

Kapala seksi Perlindungan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Aceh Jaya, Armidi, di Calang, Rabu, mengatakan gajah mati diracun itu di perbatasan dengan Krueng Beukah itu berkelamin betina diperkirakan berusia 18 tahun -- usia produktif bagi gajah sumatera.
Gajah betina itu juga diketahui tengah menyusui anak namun tidak diketahui keberadaan anak gajah itu. Gajah hanya melahirkan satu anak tiap masa kebuntingan terjadi dan menyusui anak untuk masa sekitar dua tahun.
Dari anus induk gajah itu, keluar usus dan darah. Mulutnya juga mengeluarkan buih serta badannya biru, dan tewas begitu saja walau sempat ditolong petugas setempat. Disinyalir gajah itu mati diracun pemilik lahan kelapa sawit itu.
"Sejak tujuh tahun terakhir gangguan gajah liar di Aceh Jaya sangat tinggi, kami bersama BKSDA dan Conservation Response Unit Fauna-Flora International terus berupaya mengatasi konflik satwa dengan warga," kata dia.
Gajah sumatera telah menjadi penghuni habitat alamiahnya di sana sejak dahulu kala. Manusia baru datang dan bermukim kemudian setelah areal itu ditetapkan menjadi lokasi transmigrasi dengan kebun-kebun kelapa sawitnya.
Oleh manusia, gajah-gajah itu selalu dianggap menjadi hama dan pengancam. Mereka sering dikatakan menjadi perusak puluhan hektare tanaman pertanian dan perkebunan milik warga seperti padi, pinang, kelapa, karet dan pisang.
Selain di kecamatan Sampoiniet, gangguan satwa dilindungi itu juga terjadi di Kecamatan Jaya dan beberapa daerah lainnya.
Sementara itu Komandan Ranger CRU Sampoiniet, Mukhtar, mengatakan gajah sumatera yang mati di tengah lintas badan jalan SP Empat dan SP lima itu telah dikuburkan.
(KR-IRW)
Editor: Ade Marboen
Pewarta: -
Editor:
Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
