Sukoharjo (ANTARA) - Warga Ngruki, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah Tunjung Sawitri (33) memanfaatkan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan untuk pengobatan penyakit pneumonia yang diderita sang anak.
Kepada wartawan, Senin, Tunjung membagikan pengalamannya menggunakan JKN saat menemani buah hatinya Wildan berusia delapan bulan yang tengah menjalani rawat inap di Rumah Sakit Daerah (RSUD) Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta akibat Pneumonia.
Hal itu menjadi gambaran bahwa program JKN terus memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, terutama dalam hal pemenuhan akses layanan kesehatan yang mudah, cepat, dan setara.
“Awalnya anak saya hanya demam biasa yang tak kunjung sembuh selama enam hari, lalu saya bawa ke klinik yang sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Dokter bilang bahwa trombosit anak saya masih normal dan baik-baik saja, akan tetapi dokter menyarankan untuk cek laboratorium di FKRTL karena keterbatasan alat,” ungkap Tunjung saat ditemui di RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta, Senin.
Sayangnya, kondisi anak Tunjung semakin menurun. Suhu tubuhnya semakin tinggi dan tak kunjung turun. Dengan perasaan was-was dan tanpa pikir panjang, Tunjung dan suaminya langsung membawa anaknya ke RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata Wildan mengalami gejala Pneumonia.
“Di sana anak saya langsung ditangani dengan cepat. Setelah diperiksa ternyata demam tinggi dan tidak kunjung menurun. Karena memerlukan perawatan, akhirnya anak saya diminta untuk rawat inap agar kondisinya kembali normal dan suhu badannya normal,” kata Tunjung.
Tunjung mengaku anaknya sudah terdaftar sebagai peserta JKN sejak lahir melalui kepesertaan di tempatnya bekerja. Ia mengatakan pelayanan yang diterima sangat memuaskan, tidak hanya dari sisi perawatan yang baik tetapi juga layanan yang cepat dan tanpa diskriminasi, tidak dibedakan antara peserta mandiri dengan peserta Program JKN.
Menurutnya, Program JKN dengan segala kemudahannya sangat membantu dirinya dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Ia pun bersyukur karena seluruh biaya pengobatan sepenuhnya ditanggung oleh Program JKN.
Pada kesempatan yang sama, Tunjung juga menceritakan pengalaman keluarganya yang turut merasakan manfaat dari program JKN. Orang tuanya sudah lama terdaftar sebagai peserta program JKN juga.
“Orang tua saya yang berada di luar kota. Saat di luar kota dan jauh dari saya, orang tua saya mengalami sakit kepala yang akut. Awalnya orang tuanya mengira sakit tersebut sakit kepala biasa dirasakannya. Namun setelah minum obat, keluhannya tidak kunjung membaik. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke faskes yang terdaftar,” katanya.
Lebih lanjut, orang tua Tunjung harus terlebih dahulu melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar diketahui penyebab sakitnya, apakah benar akibat dari benturan kepala atau ada indikasi penyakit lain.
“Setelah keluar pemeriksaan, orang tua Tunjung langsung dirujuk ke faskes tingkat lanjut agar mendapat penanganan lanjutan. Hasilnya, ternyata terdapat penyumbatan di bagian kepalanya. Tidak tahu pasti sudah berapa lama, tetapi keluhannya baru terasa setelah sakit kepala akut yang dirasakan,” katanya.
Tidak perlu waktu lama, satu hari setelah masuk rumah sakit, keluarganya langsung menjalani operasi. Ia merasa bersyukur karena tidak harus berlama-lama menanggung sakitnya. Di akhir pembicaraan, Tunjung menambahkan pelayanan dengan menggunakan program JKN tidak memerlukan pungutan biaya tambahan.
“Program JKN ini sangat membantu saya dan kelurga, karena menanggung biaya pengobatan dan rawat inap anak saya. Dari pihak rumah sakit pelayanannya juga sangat baik dan tidak ada pungutan tambahan biaya. Serta untuk obat-obatan juga ditanggung oleh Program JKN. Semoga Program JKN lebih baik lagi dan dapat menolong orang banyak di seluruh pelosok negeri,” katanya.

