
Pemkab: Pembinaan karakter pelajar perlu diperkuat cegah kekerasan

Blora (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Blora, Jawa Tengah menyoroti pentingnya penguatan pembinaan karakter dan pengawasan terhadap pelajar menyusul keterlibatan sejumlah siswa dalam aksi yang mengarah pada tindak kekerasan.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Blora Luluk Kusuma Agung di Blora, Rabu, menyayangkan adanya kasus dugaan aksi pelemparan ke Gedung DPRD Blora yang melibatkan pelajar, serta belasan pelajar lain yang diamankan aparat karena diduga hendak mengikuti aksi demonstrasi.
"Kasus ini menjadi peringatan penting bahwa pembinaan karakter dan pengawasan anak usia sekolah perlu diperkuat. Anak-anak ini masih dalam masa pencarian jati diri. Tugas kita bersama, baik sekolah, orang tua, maupun pemerintah, untuk memberi arahan yang tepat. Jangan sampai emosi dan solidaritas sesaat membuat mereka terjerumus," ujarnya.
Ia menyampaikan pihaknya akan berkoordinasi dengan kepolisian, dinas pendidikan, serta sekolah asal para pelajar untuk melakukan pendampingan lebih lanjut. Fokus utamanya, bukan hanya penegakan hukum, melainkan pendekatan sosial dan edukatif.
"Kami menekankan pada rehabilitasi sosial. Anak-anak ini akan dilibatkan dalam konseling, pembinaan karakter, dan kegiatan positif lainnya," imbuhnya.
Sebelumnya, aparat gabungan TNI-Polri yang berjaga di DPRD Blora mengamankan 12 pemuda pada Sabtu (6/9) sekitar pukul 03.50 WIB.
Mereka diduga hendak melakukan pelemparan setelah pesta minuman keras di kawasan Pasar Sido Makmur.
Para pemuda tersebut berkonvoi menggunakan sepeda motor dengan knalpot brong, kemudian berhenti di depan gedung DPRD dan sempat mengambil batu di pinggir jalan. Aksi ini langsung dicegah aparat.
Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto menjelaskan para pemuda berusia 15–21 tahun itu berasal dari berbagai wilayah di Blora, bahkan ada yang dari luar daerah seperti Cirebon dan Rembang.
"Kasus ini masih kami dalami. Para pelaku akan diproses sesuai hukum yang berlaku. Kami imbau generasi muda untuk tidak melakukan tindakan yang meresahkan," ujarnya.
Sebelumnya, Polres Blora juga sempat mengamankan 13 pelajar lain yang diduga akan mengikuti aksi demonstrasi pada Minggu (31/8). Namun, hasil pemeriksaan tidak menemukan bukti keterlibatan langsung, puluhan pemuda tersebut sudah dipulangkan setelah mendapatkan pembinaan dengan menghadirkan orang tua dan pihak sekolah.
Kapolres menekankan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam mengawasi anak, terutama aktivitas di media sosial agar tidak mudah terprovokasi ajakan yang tidak bertanggung jawab. Karena keterlibatan dalam aksi anarkis bisa berdampak panjang, termasuk mempersulit saat membutuhkan SKCK di masa depan.
Baca juga: Polisi amankan 12 pemuda diduga hendak merusak gedung DPRD Blora
Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
