Logo Header Antaranews Jateng

Ribuan Nelayan Cilacap masih Takut Melaut

Selasa, 17 Januari 2012 14:03 WIB
Image Print

Sebelumnya perairan Cilacap sempat dipengaruhi cuaca buruk yang mengakibatkan tinggi gelombang mencapai 3-5 meter.

Dari pantauan di Pantai Teluk Penyu Cilacap, Selasa, ratusan perahu nelayan ditambatkan pemiliknya di daratan.

Beberapa nelayan yang tidak melaut tampak sibuk memperbaiki perahu maupun jaringnya yang mengalami kerusakan.

Kondisi serupa juga terlihat di sejumlah tempat pendaratan ikan, antara lain Pantai Kemiren, Rawajarit, Tegalkamulyan, dan Sentolokawat.

Seorang nelayan di Pantai Teluk Penyu, Sipur (40) mengatakan, saat ini nelayan belum berani melaut meskipun pengaruh cuaca buruk telah hilang.

"Saat ini memang sudah tidak terjadi gelombang tinggi. Namun kalau kami melaut, harus memperhitungkan untung-ruginya, apalagi sekarang sedang masa paceklik," katanya.

Pada masa paceklik yang diperkirakan akan berlangsung hingga bulan Juli, kata dia, ikan sulit ditemukan di perairan selatan Jateng-DIY khususnya di perairan Cilacap.

Selain itu, lanjutnya, nelayan juga harus memperhitungkan biaya operasional yang harus dikeluarkan dengan hasil tangkapannya.

Kalaupun nekad melaut, belum tentu bisa memperoleh hasil tangkapan secara maksimal.

"Padahal kami harus mengeluarkan biaya untuk membeli bahan bakar, dan uang yang diperoleh dari penjualan ikan itu harus dibagi untuk tiga orang," kata dia sembari mengatakan jika dalam satu perahu terdapat tiga nelayan.

Seorang nelayan asal Kemiren, Satim (42) mengatakan, setiap kali melaut harus mengeluarkan biaya untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp50 ribu.

"Padahal hasil tangkapan hanya udang krosok sebanyak lima kilogram yang laku dijual dengan harga Rp20 ribu/kg. Uang sebesar Rp100 ribu harus dipotong Rp50 ribu untuk BBM dan sisanya dibagi untuk tiga orang," katanya.

Prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan, tinggi gelombang di perairan selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta berangsur kondusif setelah dipengaruhi cuaca buruk.

Menurut dia, tinggi gelombang maksimum di Samudera Hindia selatan Jateng-DIY pada hari Rabu (18/1) diprakirakan berkisar antara 1,25-2 meter dengan tinggi gelombang signifikan 0,75-1,25 meter dan kecepatan angin 7-18 knots yang bertiup dari arah selatan hingga barat laut.



Pewarta:
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026