"Cashless", UMKM pun aman dan nyaman di tengah pandemi

id umk, normal baru,Chasless, transaksi nontunai

"Cashless", UMKM pun aman dan nyaman di tengah pandemi

Seorang pengunjung stand pameran UMKM di Semarang tengah menunjukkan barcode untuk kemudian discan penjualnya. Transaksi penjualan tidak lagi menggunakan cash tapi dengan scan barcode. ANTARA/Nur Istibsaroh

Semarang (ANTARA) - "Awalnya memang bingung, tetapi akhirnya jadi senang," kata Muna, salah satu pelaku UMKM D'Qiya Brownies & Cookies dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, saat ditanya kesan pertama transaksi pembayaran menggunakan scan barcode atau cashless (transaksi tanpa uang).

Muna merupakan satu dari enam UMKM yang mengikuti pameran pada acara Sosialisasi dan Simulasi Panduan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan pada Penyelenggaraan Kegiatan Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran yang berlangsung di Semarang, Kamis (8/10/2020).

Lima UMKM lainnya yang ikut dalam pameran tersebut yakni Kopi Warak dari Kota Semarang, CF Chips dengan produk keripik jamur tiram, sari labu jipang, dan manisan sayuran asal Kabupaten Kendal; Srihanna dengan produk batik, tenun, dan lurik asal Salatiga; UD Hasil Logam dengan pisau dapur, alat pertanian, dan pertukangan dari Kabupaten Kudus; dan DipFi Craft dari Kota Semarang.

Baca juga: Kepakan tangguh di tengah pandemi

Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama dengan INACEB dalam rangka menghadapi tatanan normal baru, khususnya pada sektor meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE) tersebut berlangsung di Hotel Patrajasa Semarang, Jawa Tengah.

Muna, panggilan akrab dari Siti Munawaroh, pelaku UMKM yang mengaku baru pertama kali bertransaksi dengan scan barcode, tidak sekadar memudahkan bagi penjual maupun pembeli, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan nyaman.

Aman, lanjut Muna, karena tidak lagi bersinggungan dengan uang yang berpotensi menjadi obyek menularkan virus COVID-19 serta nyaman tidak lagi berurusan dengan uang kembalian.

"Ini juga menjadi pengalaman baru buat kami, karena biasanya transaksi menggunakan tunai," kata Muna yang memiliki varian cokelat, keju, dan kacang pada produk broniews & cookies dengan harga Rp15 ribu hingga Rp25 ribu per kemasan.

Rasa aman dan nyaman juga disampaikan Nur Wakhidah, pelaku UMKM DipFi Craft yang mengaku kaget dan senang dengan pembayaran yang dilakukan dengan cara cashless.

"Kaget karena ini baru pertama kali pembayaran dengan cara scan barcode apalagi saya gaptek (gagap teknologi- red.), tapi senang karena tidak lagi mikirin uang kembalian," kata Nur Wakhidah yang dibantu anaknya dalam melakukan transaksi.



Transaksi meningkat
Para pelaku UMKM yang berasal dari sejumlah daerah tersebut mengaku senang dengan sistem transaksi cashless dan dapat terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan Kemenparekraf di Kota Semarang.

Muna berhasil mencatatkan transaksi Rp1,9 juta dengan peningkatan lima hingga enam kali lipat jika dibandingkan dengan transaksi pada pameran-pameran yang pernah ia ikuti sebelumnya.

Selain Muna, Della pelaku UMKM Srihanna dengan produk batik, tenun, dan lurik asal Salatiga mencatatkan transaksi Rp2,5 juta, sedangkan Sahrigaedlowi dari UD Hasil Logam dengan pisau dapur, alat pertanian, dan pertukangan dari Kabupaten Kudus mendapatkan Rp2 juta, begitu juga dengan pelaku UMKM lainnya.

"Senang sekali. Barang yang saya bawa habis dan banyak yang tidak kebagian dan meminta untuk dikirim ke alamat pembeli," kata Cahayaning Fajarwati, pemilik CF Chips yang memproduksi keripik jamur tiram, sari labu jipang, dan manisan sayuran asal Kabupaten Kendal.

Aya, panggilan akrab Cahayaning, mengaku selain membawa 100 item dan seluruhnya habis dengan total transaksi mencapai Rp1,4 juta, juga sejumlah pemesanan atau jauh di atas rata-rata perolehan dari pameran yang pernah dia ikuti.

Banyaknya pesanan juga dialami Alberth, pelaku UMKM Kopi Warak Semarang yang mencatatkan omset Rp1,6 juta dengan menjual kopi bubuk dalam lima varian kemasan, yakni dua kemasan berbeda Kopi Warak Gunungpati, Kopi Warak Java, My Coffie, dan Kopi Blend Warak.

"Saya tidak membayangkan akan seperti ini, sampai kurang kopi yang saya bawa. Untuk transaksi dengan scan barcode, konsepnya sangat menarik dan memudahkan UMKM. Pokoknya puas ikut pameran ini," kata Alberth.

Alberth mengakui diawal menggunakan sistem scan barcode dirinya kebingungan, apalagi banyak yang melakukan pemesanan di stan miliknya dan "berebut" discanbarcode agar tidak kehabisan kopi.

"Setelah pembeli memilih produk yang diinginkan seperti menentukan rasa dan ukuran kemasan kopi, kemudian muncul jumlah yang harus dibayarkan, lalu saya tinggal scanbarcode. Mudah juga," kata Alberth.


Pembeli nyaman
Di tengah pandemi COVID-19 dengan cara scan barcode diakui Elly, salah satu pembeli memberikan rasa nyaman tidak takut tertular karena tidak lagi menggunakan uang tunai.

"Belanja seperti ini (pembayaran dengan scan barcode, red.) memudahkan pengunjung bertransaksi, tidak perlu ada uang kembalian," kata Elly yang memborong beragam belanjaan dari seluruh stan yang ada.

Elly menunjukkan barang belanjaan mulai dari masker, pisau dapur, camilan, kopi, dan dirinya berharap produk yang disajikan bisa lebih beragam dan lebih banyak jumlahnya.

Rasa nyaman berbelanja juga disampaikan Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Jawa Tengah Joko Suratno yang ditemui sedang menunjukkan barcode di telepon genggamnya saat membeli brownies dan cookies.

Joko menilai sistem pembayaran dengan scan barcode memang sudah perlu dilakukan di masa pandemi COVID-19 untuk terus mendorong perekonomian tanpa mengabaikan protokol kesehatan.

"Suka tidak suka pelaku UMKM memang perlu menerapkan transaksi seperti ini. Apalagi saat ini serba online, sehingga dapat mengurangi kontak fisik dan terhindar dari adanya uang palsu, sehingga lebih aman dan nyaman baik bagi pembeli maupun penjual," kata Joko.

Tidak sekadar cashless, tetapi penerapan protokol kesehatan berbasis Cleanliness, Health, Safety, dan Environmental Sustainability (CHSE) semakin membuat pengunjung menjadi lebih aman dan juga nyaman.

Dari enam stan pameran, setiap dua stan diberikan space kosong, sehingga menjadikan pengunjung tidak berjubel dan saat ada stan dengan jumlah pengunjung berlebihan, terdapat petugas yang mengingatkan agar tetap menjaga jarak.

Kementerian pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) saat ini massif melakukan sosialisasi dan simulasi kepada stakeholder terkait mengenai panduan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan pada penyelenggaraan kegiatan pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran termasuk kepada para UMKM.

Sosialisasi di 9 destinasi MICE, yakni Yogyakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Manado, Lombok, Banten (mewakili Jakarta), Semarang, dan Batam, bertujuan untuk menyamakan pemahaman mengenai isi panduan kepada stakeholders MICE sehingga panduan dapat dijalankan dengan sesuai pada saat pelaksanaan kegiatan MICE dan sosialisasi di Kota Semarang berlangsung tiga hari, Rabu-Jumat (7-9 Oktober 2020).

Baca juga: BI optimistis UMKM mampu gerakkan ekonomi nasional
Baca juga: Pemerintah Kota Pekalongan latih kiat pemasaran produk UMKM
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar