Logo Header Antaranews Jateng

Batik Ciprat Icon BBRSBG Kartini Temanggung

Kamis, 13 Juli 2017 07:19 WIB
Image Print
Kepala Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini Temanggung, Murhardjani menunjukkan batik ciprat karya penerima manfaat di balai resos tersebut. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Heru Suyitno)

Temanggung, ANTARA JATENG - Batik ciprat menjadi icon hasil karya penerima manfaat Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini Temanggung, Jawa Tengah.

Kepala BBRSBG Kartini Temanggung, Murhardjani di Temanggung, Kamis, mengatakan dipilih batik ciprat karena yang memungkinkan penyandang disabilitas intelektual bisa mengerjakannya dengan mudah.

"Pembuatan batik ciprat tidak harus dilukis, pewarna langsung dipercikkan atau "ciprat" ke kain sehingga bisa dilakukan para penyandang disabilitas intelektual," katanya.

Ia menuturkan cara mengajarkan pada penyandang disabilitas inteltual harus berulang-ulang karena keterbatasan intelektualnya.

Dikatakan, inovator batik ciprat ini seorang guru SLB di Semarang, dia menciptakan keterampilan-keterampilan yang cocok bagi penyandang disabilitas intelektual.

"Kami mengembangkan batik ciprat tersebut sebagai salah satu keterampilan bagi penerima manfaat di BBRSBG Kartini Temanggung," katanya.

Ia mengatakan saat mengikuti pameran di Jakarta beberapa waktu lalu, batik ciprat karya penerima manfaat tersebut laku keras. Barang yang dibawa ke pameran habis terjual dan harus menambah lagi kiriman dari Temanggung.

"Batik ciprat karya anak-anak tersebut dijual dengan harga Rp110 ribu hingga Rp125 ribu per lembar tergantung kualitas kain yang digunakan dan jumlah warna dalam batik tersebut," katanya.

Ia menuturkan hasil karya para penyandang disabiliotas intelektual tersebut juga dijadikan seragam para pegawai di BBRSBG Kartini.

Disebutkan, selain batik ciprat, keterampilan yang diajarkan di BBRSBG Kartini, antara lain tata boga dengan membuat kue dan lauk pauk, kemudian ada keterampilan menjahit seperti pembuatan bad cover, keterampilan pembuatan keset, batako, gerabah, pertukangan kayu, dan budidaya jamur.

"Keterampilan tersebut sebagai bekal para penyandang disabilitas saat kembali ke ke rumah mereka agar bisa mandiri meskipun harus tetap dalam pendampingan keluarga," katanya.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026