
Nelayan Hadapi Paceklik Harus Dibantu

Semarang, Antara Jateng - Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Semarang menyebutkan nelayan saat ini sedang menghadapi masa paceklik sehingga harus dibantu pemerintah.
"Sekarang ini kan sedang musim angin barat yang diiringi dengan gelombang tinggi sehingga mengakibatkan nelayan memilih tidak melaut," kata Ketua HNSI Kota Semarang Syaeful Hakim di Semarang, Minggu.
Kalau nelayan memaksakan diri untuk mencari ikan atau melaut, lanjut dia, berbahaya bagi keselamatan sehingga biasanya banyak nelayan yang memilih tidak melaut dan menganggur.
Padahal, kata dia, kebutuhan hidup sehari-hari mereka harus dipenuhi sehingga pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Kota Semarang harus membantu agar para nelayan tetap bisa bertahan hidup.
Menurut dia, selama ini Pemkot Semarang telah memungut retribusi dari hasil pelelangan ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 9/2010 tentang Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
"Hasil dari pungutan lelang di TPI itu, semestinya bisa digunakan pemerintah untuk membantu nelayan pada saat-saat seperti ini ketika nelayan menghadapi paceklik akibat cuaca," katanya.
Syaeful mengatakan bahwa bantuan itu bisa berbentuk bahan pokok sehingga setidaknya bisa membantu nelayan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya karena mereka tidak bisa bekerja.
"Ya, istilahnya Pemkot Semarang perlu mengembalikan hasil pungutan pelelangan itu untuk menjamin dan meningkatkan kesejahteraan para nelayan, seperti penyaluran bantuan sembako," katanya.
Oleh karena itu, kata dia, Pemkot Semarang tidak bisa kemudian berpangku tangan melihat kondisi nelayan yang menghadapi paceklik, sebab sudah menjadi konsekuensi untuk membantu warganya.
Ia menambahkan musim angin barat membuat tinggi gelombang laut bisa mencapai lebih dari dua meter sehingga nelayan tidak berani melaut karena nyawa menjadi taruhannya.
"Makanya banyak nelayan yang sekarang ini memilih tinggal di rumah. Saatnya, Pemkot Semarang memberikan bantuan atau subsidi untuk membantu mereka (nelayan) sekaligus menjaga dapur nelayan tetap 'ngebul'," pungkasnya.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Kliwon
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
