
"Pipa Vertical Garden" Diminati Masyarakat

Solo, Antara Jateng - Kerajinan ekonomi kreatif "pipa vertical garden" untuk menanam lahan terbatas yang diproduksi asal Kelurahan Purwosari Laweyan Solo, mulai diminati masyarakat.
Denok Marty Astuti (27), seorang perajin warga Jalan Dahlia Nomor 28 Purwosari Laweyan, di Solo, Selasa, mengatakan, ide membuat pipa vertical garden sebenarnya sudah sejak awal 2016, tetapi baru tiga bulan ini, terlaksana, dan ternyata mulai diminati masyarakat.
Menurut Denok, pipa vertical garden tersbeut sangat membantu masyarakat yang hanya memiliki lahan sempit, tetapi mereka gemar menanam tanaman hias atau jenis komoditas sayuran.
Masyarakat yang hidupnya tinggal di kota-kota besar tidak bisa lagi menanam pohon atau tanaman di ruang terbuka hijau. Masyarakat membuat agar ruangan atau lingkungan rumahnya sejuk dengan banyak tanaman, sehingga mereka dengan memanfaatkan pipa vertical garden ini.
"Masyarakat dengan suhu udara yang semakin panas ini, banyak menanam dengan memanfaatkan pipa vertical garden lebih praktis dan tidak membutuhkan ruangan terbuka yang luas," kata Denok.
Menurut dia, bahan bakunya hanya pipa paralon dengan ukuran tiga dim dipotong-potong masing-masing dengan panjang 100 centimeter. Pipa itu, kemudian digergaji jaraknya sekitar 10 centimeter dengan dipanasi dibentul lubang untuk tanaman sehingva kelihata indah.
"Pipa itu, dipasang di dalam pot yang sudah berisi media tanah, sehingga jenis tanaman nantinya bisa tumbuh berkembang keluar setiap lubang paralon," kata Denok yang juga pemilik CV Republik Hasta Kriya Solo.
Menurut dia, harag setiap pipa vertical garden tersbeut dijual seharga Rp50 ribu per buah dan rata-rata bisa laku terjual sekitar 100 buah per bulan.
Menurut dia, pesanan dari dari amsyarakat Kota Solo dan sekitarnya dan juga Jakarta yang kini semakin berkurang lahan terbuka untuk menanam.
"Kami mampu membuat pipa vertical garden ini, rata-rata sekitar 70 buah per minggu. Kami membuat sementara berdasarkan pesanan saja," katanya.
Cara pemasaran pipa vertical garden buatanya ini, kata Denok, dari edukasi melalui pameran-pameran yang digelar oleh Pemerintah daerah atau saat mengajar atau memberikan pelatihan di daerah-daerah.
"Kerajinan ini, ternyata hasilnya lumayan dan mulai diminati konsumen yang memiliki lahan terbatas," kata Denok.
Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor:
M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
