
Sensus Ekonomi, 39.101 Petugas Turun ke Lapangan

"Sensus ekonomi ini untuk mendata seluruh kegiatan usaha masyarakat. Di luar sektor pertanian. Sebab, untuk pertanian sudah ada sensus pertanian," kata Kepala BPS Jateng Margo Yuwono di Semarang, Jumat.
Hal tersebut diungkapkan usai "Apel Siaga Sensus Ekonomi Tahun 2016" bertema "Validitas Data Tentukan Hasil Pembangunan" yang berlangsung di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang.
Sebelum diterjunkan ke lapangan, kata dia, puluhan ribu petugas sensus itu akan dilatih oleh instruktur agar benar-benar memahami konsep dan definisi tugas yang diemban dalam melakukan sensus ekonomi.
"Tujuannya, setiap petugas punya persepsi dalam melakukan tugas pendataan (sensus ekonomi, red.) secara lengkap di Jateng. Makanya, setelah apel siaga ini, mereka akan dilatih," katanya.
Ia mengatakan sensus ekonomi terakhir dilakukan pada 2006 sehingga kondisinya akan jauh berbeda, mengingat perkembangan ekonomi selama 10 tahun terakhir sudah sedemikian pesat.
"Pasti akan berbeda. Pertama, adalah jumlah usahanya. Jumlah usaha pasti akan bertambah banyak. Kemudian, karakteristik usaha pasti akan berbeda karena sekarang zaman teknologi maju," katanya.
Dulu, kata dia, belum ada teknologi informasi (IT) yang melekat dalam usaha bisnis seperti sekarang, sebab cara orang berbisnis sekarang ini sudah berbeda dibandingkan dengan 10 tahun lalu.
"Kami akan potret selengkap-lengkapnya, termasuk 'e-comers', bisnis 'online', dan sebagainya. Ini yang akan kami tangkap dalam sensus karena kondisinya sangat berbeda dari 10 tahun lalu," kata Margo.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan pentingnya sensus ekonomi yang dilakukan BPS, salah satunya dijadikan sebagai basis data untuk mengembangan usaha yang ada di wilayah itu.
"Jangan sampai, awalnya datanya keliru, kemudian dipakai mengambil keputusan. Pasti keputusannya akan keliru. Makanya, harus berikan data sevalid mungkin. Berikan data yang betul-betul presisi," katanya.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
hernawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
