
Lima Gunung Pentas Hari Perdamaian Internasional

"Kami mementaskan performa seni tarian tradisional dalam kemasan pentas ritual doa, besok (20/9), dengan judul 'Damai Kok Repot'," kata Riyadi, pimpinan rombongan Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang sebelum berangkat ke Jakarta, di Magelang, Sabtu.
Sejumlah tarian tradisional yang bakal dipentaskan oleh para seniman yang tergabung dalam komunitas tersebut, antara lain garapan tarian warok dan soreng, sedangkan ritual doa untuk perdamaian dunia dipimpin oleh dalang dari komunitas tersebut, Sih Agung Prasetyo.
Sedikitnya 30 seniman memainkan performa "Damai Kok Repot" dengan aneka alat musik tetabuhan, seperti kendang, bende, drum, terbang, kentongan, dan truntung.
Riyadi yang juga pemimpin Padepokan Warga Budaya Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang di kawasan Gunung Merbabu itu, menjelaskan judul performa "Damai Kok Repot" tersebut diputuskan komunitas seniman petani yang meliputi Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh, tidak lepas dari pernyataan populer Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid, "Gitu Aja Kok Repot".
Ia menjelaskan komunitas tersebut pentas dalam peringatan Hari Perdamaian Internasional atas undangan khusus putri mantan Presiden Gus Dur yang juga Direktur Eksekutif The Wahid Institute Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (Yenny Wahid).
"Mbak Yenny juga hadir saat kami menggelar Festival Lima Gunung XIV bulan lalu di Gunung Andong. Kini kami diundang Mbak Yenny pada peringatan Hari Perdamaian Internasional di Jakarta," katanya.
Hari Perdamaian Internasional yang jatuh setiap 21 September ditetapkan Persatuan Bangsa Bangsa pada sidang umum pada 28 September 2001 melalui resolusi nomor 55/282.
Riyadi mengemukakan pesan-pesan perdamaian harus terus dikumandangkan agar semakin meluas diperjuangkan oleh berbagai kalangan masyarakat dunia.
"Damai itu tidak susah, dengan adanya damai, semua jadi beres dan lancar, tidak repot. Dan itu menjelaskan sebetulnya kalau tidak berpegang fanatik masing-masing, damai itu tidak terlalu repot. Kami di Komunitas Lima Gunung tidak memandang suku, agama, kekayaan, desa, kota, tetapi kumpul 'dadi siji' (menjadi satu, red.) tidak repot," katanya.
Kesempatan Komunitas Lima Gunung menyuguhkan keseniannya, katanya, menjadi bagian keterlibatan kelompok seniman petani dari Kabupaten Magelang itu dalam menyebarluaskan pesan-pesan tentang perdamaian dunia.
Pewarta: M Hari Atmoko
Editor:
M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
