
Transaksi Nontunai Permudah Pengawasan

"Kalau penggunaan uang tunai itu kan susah pengawasannya, salah satu cara di seluruh dunia berdasarkan data empiris yang ada, transaksi nontunai ini bisa mencegah korupsi," kata Kepala BI Kantor Perwakilan Wilayah V Jateng-DIY, Iskandar Simorangkir di Semarang, Senin.
Menurut dia, jika seluruh pemerintah daerah di Indonesia sudah menerapkan transaksi nontunai maka tingkat kebocoran bisa diminimalkan. Dengan demikian uang bisa dimaksimalkan untuk pembangunan di masing-masing daerah.
"Jawa Tengah juga merupakan salah satu provinsi yang besar sehingga pembangunan harus terus dilaksanakan. Salah satu sumber anggaran dengan cara meminimalkan kebocoran uang," katanya.
Mengenai transaksi nontunai sendiri, BI akan terus melakukan pengenalan di kalangan masyarakat. Menurutnya, sosialisasi transaksi secara nontunai sangat penting, sehingga ketika masyarakat sudah tahu diharapkan bisa menggunakannya untuk keperluan sehari-hari.
"Dalam konsep makro ekonomi dengan penggunaan transaksi secara nontunai maka perputaran uang bisa lebih cepat. Selain itu, kalau uang tunai ditaruh di rumah atau di dompet kan uang mati, sedangkan kalau nontunai kan masuk rekening bank dan diputar oleh bank sehingga bisa menciptakan kegiatan ekonomi baru," katanya.
Oleh karena itu, lanjut dia, kekuatan yang ditimbulkan oleh transaksi nontunai sangat maksimal karena berdampak pada kegiatan ekonomi yang lebih cepat dan memberikan sumber pembiayaan yang lebih besar.
"Dengan sumber pembiayaan yang lebih besar maka akan mendorong investasi yang lebih besar pula. Selanjutnya akan berdampak pada meningkatnya produksi," katanya.
Jika produksi meningkat artinya sisi suplai akan naik dan harga akan terkendali. "Kondisi ini bisa menekan tingkat inflasi," katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
