Purwokerto (ANTARA) - Sebanyak 10 kereta api berhenti luar biasa di wilayah PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 5 Purwokerto pascagempa bermagnitudo 6,4 yang terjadi pada Jumat malam, kata Manajer Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto Krisbiyantoro.

"Sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) kami bila terjadi gempa, semua KA berhenti untuk menunggu pemeriksaan jalur KA," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat malam.

Dalam hal ini, kata dia, seluruh masinis yang tengah mengoperasikan KA diminta untuk berhenti secara serentak oleh Pusat Pengendali Perjalanan Kereta Api malalui radio lokomotif terpusat.

Setelah seluruh KA berhenti, lanjut dia, petugas Unit Jalan dan Jembatan (JJ) melakukan pemantauan guna memastikan kondisi jalan maupun jembatan dalam kondisi aman dilewati KA pascagempa yang terasa.

"Perintah KA harus berhenti pada pukul 20.05 WIB dan jalan kembali 20.33 WIB," jelasnya.

Lebih lanjut, Krisbiyantoro mengatakan 10 KA yang berhenti luar biasa di wilayah Daop 5 Purwokerto khususnya lintas Prupuk-Kroya terdiri atas KA 60 Bima posisi di Stasiun Prupuk, KA 2612 Barang posisi di petak jalan Slawi-Prupuk, KA 249 Serayu posisi di petak jalan Notog-Purwokerto, KA 180 Baturraden Ekspress posisi di petak jalan Purwokerto-Notog, KA 105 Gaya Baru posisi di petak jalan Karangsari-Patuguran, dan KA Senja Yogyakarta di Stasiun Purwokerto.

Sementara di lintas Kroya-Kutoarjo terdiri atas KA 149 Sawunggalih posisi di Stasiun Sumpiuh, KA 2719 Barang posisi petak jalan Gombong-Ijo, KA 223 Kutojaya Utara posisi di Stasiun Kebumen, dan KA 134 Kertanegara posisi Stasiun Kutoarjo.

"Sedangkan di lintas Kroya-Banjar tidak ada kereta api yang harus berhenti luar biasa karena kebetulan tiada KA yang sedang melintas," katanya.

Gempa bermagnitudo 6,4 (M6,4) yang terjadi pada hari Jumat (30/6), pukul 19.57 WI, berlokasi di 8,63 lintang selatan dan 110,08 bujur timur atau 86 kilometer barat daya Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan kedalaman 25 kilometer. 

 

Pewarta : Sumarwoto
Editor : Teguh Imam Wibowo
Copyright © ANTARA 2024