Komunitas Barongsai Satya Budi Dharma Semarang berdayakan anak putus sekolah
Minggu, 22 Januari 2023 9:00 WIB
Komunitas Barongsai Satya Budi Dharma menampilkan pertunjukan barongsai dan naga pada perayaan Imlek tahun 2574 Kongzili, berlokasi di Kelenteng Hoo Hok Bio Semarang, Jumat (20/1/2023). (ANTARA/Helena Mutiara)
Semarang (ANTARA) - Komunitas Barongsai Satya Budi Dharma Semarang, Jawa Tengah memberdayakan anak-anak putus sekolah dengan mengajaknya bergabung dan berlatih bermain kesenian itu ketimbang terjerumus pergaulan yang negatif.
"Kita rekrutnya anak-anak kecil, lalu anak-anak yang putus sekolah kita tarik daripada pakai obat," kata Ferdian Chandra, salah satu pendiri Komunitas Barongsai Satya Budi Dharma di Semarang, Sabtu.
Bersama Arbi Ardriano, Ferdian mendirikan komunitas kesenian itu sejak 1999 yang berawal dari industri rumahan pembuatan barongsai hingga berlanjut membuat klub untuk menampilkan atraksi barongsai dan liong.
Sejak awal, Ferdian memang menekankan keterbukaan komunitas untuk menerima siapa pun yang ingin bergabung, terutama dari kalangan anak-anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan.
Saat ini, sudah ada 35 orang dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya yang tergabung dalam komunitas tersebut yang aktif beratraksi, sembari tetap melayani pesanan barongsai.
Barongsai yang diproduksi Ferdian juga mengikuti perkembangan zaman, misalnya warna-warna yang dihadirkan lebih bervariasi dan motifnya pun lebih beragam daripada sebelumnya.
"Kalau kita sebenarnya condong ke ungu cuma ya berhubung sekarang sudah menjadi cabang olahraga, kita cari warna yang cantik-cantik untuk pertandingan tapi tetap dominan ungu," lanjutnya.
Untuk harga, Ferdian mematok harga Rp5 juta-Rp6 juta untuk satu barongsai, sedangkan liong (naga) dijualnya Rp6 juta-Rp8 juta, bergantung dengan kualitas bahan dan kesulitan model yang dibuat.
Ia optimistis barongsai akan tetap bertahan, apalagi saat ini sudah bukan tradisi milik kelompok tertentu yang ditunjukkan dengan beragam kegiatan yang menampilkan atraksi barongsai, bukan hanya acara tradisional Tionghoa.
"Soalnya barongsai sekarang sudah bukan tradisional, sudah menanjak ke ranah olahraga. Sekarang KONI pun sudah mengakui bahwa barongsai dan naga (liong) termasuk ke salah satu cabang olahraga," katanya.
Sementara itu, Brian Sugiarto, salah satu anggota baru komunitas tersebut bersyukur bisa mengekspresikan hobi, sekaligus melestarikan kesenian barongsai dan liong agar semakin berkembang.
"Saya gabung mulai tahun 2022, awalnya saya pemain barongsai tapi sempat berhenti lalu diajak teman lagi untuk gabung jadi sekarang di komunitas ini. Komunitas ini temannya baik-baik," katanya.
"Kita rekrutnya anak-anak kecil, lalu anak-anak yang putus sekolah kita tarik daripada pakai obat," kata Ferdian Chandra, salah satu pendiri Komunitas Barongsai Satya Budi Dharma di Semarang, Sabtu.
Bersama Arbi Ardriano, Ferdian mendirikan komunitas kesenian itu sejak 1999 yang berawal dari industri rumahan pembuatan barongsai hingga berlanjut membuat klub untuk menampilkan atraksi barongsai dan liong.
Sejak awal, Ferdian memang menekankan keterbukaan komunitas untuk menerima siapa pun yang ingin bergabung, terutama dari kalangan anak-anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan.
Saat ini, sudah ada 35 orang dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya yang tergabung dalam komunitas tersebut yang aktif beratraksi, sembari tetap melayani pesanan barongsai.
Barongsai yang diproduksi Ferdian juga mengikuti perkembangan zaman, misalnya warna-warna yang dihadirkan lebih bervariasi dan motifnya pun lebih beragam daripada sebelumnya.
"Kalau kita sebenarnya condong ke ungu cuma ya berhubung sekarang sudah menjadi cabang olahraga, kita cari warna yang cantik-cantik untuk pertandingan tapi tetap dominan ungu," lanjutnya.
Untuk harga, Ferdian mematok harga Rp5 juta-Rp6 juta untuk satu barongsai, sedangkan liong (naga) dijualnya Rp6 juta-Rp8 juta, bergantung dengan kualitas bahan dan kesulitan model yang dibuat.
Ia optimistis barongsai akan tetap bertahan, apalagi saat ini sudah bukan tradisi milik kelompok tertentu yang ditunjukkan dengan beragam kegiatan yang menampilkan atraksi barongsai, bukan hanya acara tradisional Tionghoa.
"Soalnya barongsai sekarang sudah bukan tradisional, sudah menanjak ke ranah olahraga. Sekarang KONI pun sudah mengakui bahwa barongsai dan naga (liong) termasuk ke salah satu cabang olahraga," katanya.
Sementara itu, Brian Sugiarto, salah satu anggota baru komunitas tersebut bersyukur bisa mengekspresikan hobi, sekaligus melestarikan kesenian barongsai dan liong agar semakin berkembang.
"Saya gabung mulai tahun 2022, awalnya saya pemain barongsai tapi sempat berhenti lalu diajak teman lagi untuk gabung jadi sekarang di komunitas ini. Komunitas ini temannya baik-baik," katanya.
Pewarta : Zuhdiar Laeis/Helena Mutiara
Editor : Teguh Imam Wibowo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bupati Temanggung : Penghargaan Abyakta hasil dedikasi seniman lestarikan kesenian
09 February 2026 23:15 WIB
Ketua Dewan Kesenian periode 2025-2030 komitmen dengan program kolaborasi
09 December 2025 17:30 WIB
Terpopuler - Seni dan Budaya
Lihat Juga
"Nyadran Bhumi Phala", bentuk wujud syukur dan komitmen merawat alam Temanggung
02 May 2026 22:55 WIB
Festival Kota Lama Semarang dan Festival Cheng Ho masuk Karisma Event Nusantara 2026
29 April 2026 8:29 WIB