Magelang (ANTARA) - Inspektorat Kota Magelang, Jawa Tengah memberikan pembekalan kepada para pejabat di lingkungan pemerintah kota setempat mengenai internalisasi manajemen risiko guna mendukung pelaksanaan pembangunan berjalan secara ekonomis, efektif, dan efisien.
"Saya mengapresiasi Inspektorat yang menginisiasi kegiatan ini tentang bagaimana mengelola risiko yang muaranya memastikan pembangunan di Kota Magelang dalam berjalan secara ekonomis, efektif dan efisien," kata Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito dalam sambutan tertulis pembukaan kegiatan itu yang dibacakan Wakil Wali Kota Windarti Agustina di Magelang, Rabu.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Adipura Kencana, kompleks Kantor Wali Kota Magelang itu, dengan peserta para pimpinan organisasi perangkat daerah, kepala sekolah, pengawas, serta auditor di lingkungan Pemkot Magelang
Ia mengatakan dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, kepala daerah dibantu para kepala OPD sebagai penanggungjawab pelaksanaan tugas dan fungsi.
Dalam menjalankan tugas dan fungsi tersebut, ujarnya, dibutuhkan rentang kendali yang dalam setiap tahapannya memiliki risiko-risiko, baik yang dapat dikendalikan maupun tidak dapat dikendalikan.
Ia berharap seluruh peserta kegiatan dapat memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan menyerap ilmu serta mempraktikkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Widyaiswara Ahli Utama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah Kunto Nugroho yang menjadi narasumber kegiatan itu menjelaskan risiko merupakan bagian dari kemungkinan masalah yang akan dihadapi.
Risiko, ujarnya, ada yang bisa diantisipasi namun ada juga menjadi sesuatu yang tiba-tiba terjadi.
"Kita tidak ingin risiko itu menjadi masalah sehingga bagaimana kita bisa mengidentifikasi, merevitalisasi, mengantisipasi," katanya.
Maka dari itu, lanjut Kunto, manajemen risiko adalah satu pendekatan yang sistematis terkait dengan budaya, aktualisasi habituasi (pembiasaan), yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Magelang melalui Inspektorat.
"Saya dengar SPIP (Sistem Pengendalian Internal Pemerintah) dan satgas di Kota Magelang sudah terbentuk, kalau sistem sudah dan itu sudah jadi pembiasaan, itu jadi budaya, tinggal diproses, nanti akan tinggal menentukan tindakan terbaik," katanya.
Jika hal itu berjalan, katanya, bukan tidak mungkin tujuan atau visi misi Kota Magelang akan terwujud.
Ia menyebut tentang pentingnya komitmen kuat seluruh jajaran Pemerintah Kota Magelang.
Terkait dengan SPIP, Inspektur Kota Magelang Sumartono menjelaskan, sistem tersebut merupakan pilar akuntabilitas.
SPIP menjadi alat untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif, melaporkan pengelolaan keuangan negara secara andal.
"Selain itu juga untuk mengamankan aset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundangan-undangan," katanya. (hms).
"Saya mengapresiasi Inspektorat yang menginisiasi kegiatan ini tentang bagaimana mengelola risiko yang muaranya memastikan pembangunan di Kota Magelang dalam berjalan secara ekonomis, efektif dan efisien," kata Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito dalam sambutan tertulis pembukaan kegiatan itu yang dibacakan Wakil Wali Kota Windarti Agustina di Magelang, Rabu.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Adipura Kencana, kompleks Kantor Wali Kota Magelang itu, dengan peserta para pimpinan organisasi perangkat daerah, kepala sekolah, pengawas, serta auditor di lingkungan Pemkot Magelang
Ia mengatakan dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, kepala daerah dibantu para kepala OPD sebagai penanggungjawab pelaksanaan tugas dan fungsi.
Dalam menjalankan tugas dan fungsi tersebut, ujarnya, dibutuhkan rentang kendali yang dalam setiap tahapannya memiliki risiko-risiko, baik yang dapat dikendalikan maupun tidak dapat dikendalikan.
Ia berharap seluruh peserta kegiatan dapat memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan menyerap ilmu serta mempraktikkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Widyaiswara Ahli Utama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah Kunto Nugroho yang menjadi narasumber kegiatan itu menjelaskan risiko merupakan bagian dari kemungkinan masalah yang akan dihadapi.
Risiko, ujarnya, ada yang bisa diantisipasi namun ada juga menjadi sesuatu yang tiba-tiba terjadi.
"Kita tidak ingin risiko itu menjadi masalah sehingga bagaimana kita bisa mengidentifikasi, merevitalisasi, mengantisipasi," katanya.
Maka dari itu, lanjut Kunto, manajemen risiko adalah satu pendekatan yang sistematis terkait dengan budaya, aktualisasi habituasi (pembiasaan), yang sudah dilakukan Pemerintah Kota Magelang melalui Inspektorat.
"Saya dengar SPIP (Sistem Pengendalian Internal Pemerintah) dan satgas di Kota Magelang sudah terbentuk, kalau sistem sudah dan itu sudah jadi pembiasaan, itu jadi budaya, tinggal diproses, nanti akan tinggal menentukan tindakan terbaik," katanya.
Jika hal itu berjalan, katanya, bukan tidak mungkin tujuan atau visi misi Kota Magelang akan terwujud.
Ia menyebut tentang pentingnya komitmen kuat seluruh jajaran Pemerintah Kota Magelang.
Terkait dengan SPIP, Inspektur Kota Magelang Sumartono menjelaskan, sistem tersebut merupakan pilar akuntabilitas.
SPIP menjadi alat untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif, melaporkan pengelolaan keuangan negara secara andal.
"Selain itu juga untuk mengamankan aset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundangan-undangan," katanya. (hms).