Banjarnegara (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara menginformasikan bahwa jumlah desa yang terdampak kekeringan bertambah dari satu desa menjadi tiga desa.

"Hari ini kami mendapat laporan desa yang terdampak kekeringan menjadi tiga desa," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara, Arief Rahman di Banjarnegara, Kamis.

Tiga desa tersebut, kata dia, Desa Ampeksari, Desa Kebutuhjurang, dan Desa Jalatunda. "Untuk Desa Jalatunda kami sudah mendistribusikan dua armada tanki air dengan total sekitar 10.000 liter air ke lokasi tersebut," katanya.

Kendati demikian, kata dia, pihaknya baru akan mendistribusikan air bersih ke Desa Ampeksari dan Desa Kebutuhjurang pada Jumat (5/7). "Untuk dua desa lainnya rencananya Jumat kita distribusikan air bersih untuk warga yang membutuhkan," katanya.

Sementara itu, pihaknya juga terus menyiagakan personel dan mobil tangki air yang siap mendistribusikan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan. "Masyarakat yang memiliki informasi kejadian krisis air bersih di wilayahnya agar segera menghubungi BPBD Banjarnegara. Apabila ada laporan dari masyarakat terkait krisis air bersih maka tim kami akan segera meluncur," katanya

Baca juga: Pemkab Banjarnegara antisipasi bencana kekeringan

Sebelumnya, Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono mengimbau masyarakat di wilayah setempat untuk menghemat penggunaan air sebagai salah satu upaya mengantisipasi kekeringan di wilayah setempat.

Bupati mengatakan, pihaknya telah meminta BPBD Banjarnegara untuk memastikan kelancaran proses distribusi air bersih ke wilayah yang membutuhkan. "Saya sudah perintahkan Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara untuk mengawal langsung kegiatan distribusi air bersih ke wilayah terdampak," katanya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Kabupaten Banjarnegara akan memasuki puncak musim kemarau pada bulan Agustus 2019. Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara (BMKG Banjarnegara) Setyoajie Prayoedhi mengatakan tren curah hujan di wilayah Banjarnegara dan kabupaten lain di sekitarnya terus mengalami penurunan karena wilayah ini sudah mulai memasuki musim kemarau sejak awal bulan Juni 2019.

BMKG, kata dia, juga ikut mengajak masyarakat bijak menggunakan air guna mengantisipasi dampak kekeringan.

Baca juga: Pemprov Jateng antisipasi dampak kekeringan di daerah-daerah rawan


Pewarta : Wuryanti Puspitasari
Editor : Achmad Zaenal M
Copyright © ANTARA 2024