Harga merosot, peternak unggas Soloraya minta perlindungan hak usaha
Rabu, 26 September 2018 14:23 WIB
Pinsar membagikan ayam hidup secara gratis kepada masyarakat sebagai bentik aksi keprihatinan atas turunnya harga ayam (Foto: Aris Wasita)
Solo (Antaranews Jateng) - Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Soloraya, Jawa Tengah, berharap pemerintah memberikan perlindungan hak usaha kepada peternak kecil agar tidak merugi seiring dengan turunnya harga ayam.
"Penurunan harga ini terjadi karena ada `over` suplai di pasaran. Memang dari data Kementerian Pertanian pada Januari-Juli ada surplus bibit ayam," kata Ketua Pinsar Soloraya Parjuni di Solo, Rabu.
Harga ayam hidup turun dari Rp18.000/kg menjadi Rp13.000/kg.
Menurut dia, melihat situasi di mana terjadi surplus bibit ayam, banyak perusahaan besar yang kuat secara modal akhirnya masuk di pasaran dan tidak mau berbagi dengan peternak mandiri.
"Berlebihnya panen mereka ini imbasnya ke kami. Peternak mandiri yang akhirnya mengalami kerugian," katanya.
Ia mengatakan harga jual yang rendah ini ditambah dengan naiknya harga bibit ayam dan pakan makin membebani peternak.
Menurut dia, jika idealnya harga bibit ayam di kisaran Rp5.000-5.500/ekor saat ini naik menjadi Rp7.000/ekor.
"Harga pakan naik sekitar Rp600/kg. Bahkan kalau di tingkat peternak naiknya Rp1.000-1.200/kg. Sekarang harganya menjadi Rp7.000/kg, harapan kami bisa turun menjadi Rp6.500/kg," katanya.
Terkait hal itu, pihaknya telah melakukan aksi keprihatinan dengan cara membagikan ayam hidup secara gratis kepada masyarakat Kota Solo dan sekitarnya sebanyak 1.500 ekor.?
Ia mengatakan akan melihat dampak dari aksi tersebut sekitar 1-2 hari.
"Selanjutnya kami juga akan melakukan komunikasi dengan pemerintah, kalau mentok ya kami akan demo lagi," katanya.
"Penurunan harga ini terjadi karena ada `over` suplai di pasaran. Memang dari data Kementerian Pertanian pada Januari-Juli ada surplus bibit ayam," kata Ketua Pinsar Soloraya Parjuni di Solo, Rabu.
Harga ayam hidup turun dari Rp18.000/kg menjadi Rp13.000/kg.
Menurut dia, melihat situasi di mana terjadi surplus bibit ayam, banyak perusahaan besar yang kuat secara modal akhirnya masuk di pasaran dan tidak mau berbagi dengan peternak mandiri.
"Berlebihnya panen mereka ini imbasnya ke kami. Peternak mandiri yang akhirnya mengalami kerugian," katanya.
Ia mengatakan harga jual yang rendah ini ditambah dengan naiknya harga bibit ayam dan pakan makin membebani peternak.
Menurut dia, jika idealnya harga bibit ayam di kisaran Rp5.000-5.500/ekor saat ini naik menjadi Rp7.000/ekor.
"Harga pakan naik sekitar Rp600/kg. Bahkan kalau di tingkat peternak naiknya Rp1.000-1.200/kg. Sekarang harganya menjadi Rp7.000/kg, harapan kami bisa turun menjadi Rp6.500/kg," katanya.
Terkait hal itu, pihaknya telah melakukan aksi keprihatinan dengan cara membagikan ayam hidup secara gratis kepada masyarakat Kota Solo dan sekitarnya sebanyak 1.500 ekor.?
Ia mengatakan akan melihat dampak dari aksi tersebut sekitar 1-2 hari.
"Selanjutnya kami juga akan melakukan komunikasi dengan pemerintah, kalau mentok ya kami akan demo lagi," katanya.
Pewarta : Aris Wasita
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
DPR: Perlu audit seluruh dapur MBG guna menjamin makanan bergizi aman bagi anak
07 May 2026 15:34 WIB
Pemkab Batang gencarkan program pendidikan kesetaraan bagi anak-anak putus sekolah
05 May 2026 11:31 WIB
Wabup Purbalingga: Otonomi daerah harus berdampak nyata bagi warga dan tepat sasaran
27 April 2026 16:14 WIB