Ini Cara Pemkot Surakarta Promosikan Sektor Wisata
Rabu, 13 September 2017 14:23 WIB
Ilustrasi - Penari dan pemusik sedang berpentas di festival pasar tradisi di Pasar Triwindu (Foto: ANTARAJATENG.COM/Aris Wasita Widiastuti)
Solo, ANTARA JATENG - Pemerintah Kota Surakarta berupaya mempromosikan sektor wisata lokal melalui Festival Ragam Pasar Tradisional yang akan dilaksanakan di Benteng Vastenburg, Solo dari tanggal 21-24 September 2017.
"Adapun tujuan diadakannya festival ini sebagai ajang melakukan promosi, dan kaitannya dengan keberadaan pasar tradisional ini kami berupaya memberikan informasi kepada masyarakat luas," kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta Subagiyo di Solo, Rabu.
Menurut dia, Pemkot Surakarta berupaya menghilangkan citra negatif pasar tradisional dengan membuat kebijakan agar pasar tersebut tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk berbelanja.
Ia mengatakan langkah yang diambil oleh Pemkot Surakarta adalah mulai membenahi pasar tradisional dengan merevitalisasi fisik pasar, menata tempat dagangan sesuai zoning, dan melengkapi fasilitas pasar.
Ia menilai pasar tradisional tepat untuk dipromosikan karena memiliki ragam dagangan kebutuhan masyarakat yang berkualitas dan punya daya saing.
"Festival ragam pasar tradisional ini disamping mempromosikan pasar juga diharapkan bisa menarik masyarakat sekitar untuk hadir di Solo dan menikmati kekhasan Kota Solo. Dengan tertariknya masyarakat mengunjungi festival ini maka mereka juga berkepentingan untuk melihat pasar lain," katanya.
Ia mengatakan tepatnya akan ada 44 pasar tradisional yang menjadi peserta festival tersebut. Nantinya, masing-masing pasar akan menampilkan kekhasan masing-masing.
"Sebagai contoh, untuk barang klithikan akan dipamerkan oleh Pasar Notoharjo dan Pasar Gading memamerkan barang bekas. Tidak boleh misalnya Pasar Notoharjo justru memamerkan barang bekas yang sudah menjadi ciri khas Pasar Gading," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Kota Surakarta Daryono mengatakan pembukaan festival tersebut akan dilaksanakan bertepatan dengan 1 Suro dimana banyak orang dari luar kota berkunjung ke Solo.
"Pasar tradisional bisa menjadi destinasi wisata, dengan demikian tentunya diharapkan pasar tradisional bisa senyaman dan seindah mungkin. Selain itu ke depan bisa menjadi wisata kota," katanya.
Ia menilai pasar tradisional memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan pasar modern. Ia mengatakan keunikan pasar tradisional yang tidak dimiliki pasar modern di antaranya konten yang diperdagangkan dan adanya perbedaan karakter.
"Kalau di pasar tradisional kan ada proses tawar menawar harga. Ini yang menarik dan unik," katanya.
"Adapun tujuan diadakannya festival ini sebagai ajang melakukan promosi, dan kaitannya dengan keberadaan pasar tradisional ini kami berupaya memberikan informasi kepada masyarakat luas," kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta Subagiyo di Solo, Rabu.
Menurut dia, Pemkot Surakarta berupaya menghilangkan citra negatif pasar tradisional dengan membuat kebijakan agar pasar tersebut tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk berbelanja.
Ia mengatakan langkah yang diambil oleh Pemkot Surakarta adalah mulai membenahi pasar tradisional dengan merevitalisasi fisik pasar, menata tempat dagangan sesuai zoning, dan melengkapi fasilitas pasar.
Ia menilai pasar tradisional tepat untuk dipromosikan karena memiliki ragam dagangan kebutuhan masyarakat yang berkualitas dan punya daya saing.
"Festival ragam pasar tradisional ini disamping mempromosikan pasar juga diharapkan bisa menarik masyarakat sekitar untuk hadir di Solo dan menikmati kekhasan Kota Solo. Dengan tertariknya masyarakat mengunjungi festival ini maka mereka juga berkepentingan untuk melihat pasar lain," katanya.
Ia mengatakan tepatnya akan ada 44 pasar tradisional yang menjadi peserta festival tersebut. Nantinya, masing-masing pasar akan menampilkan kekhasan masing-masing.
"Sebagai contoh, untuk barang klithikan akan dipamerkan oleh Pasar Notoharjo dan Pasar Gading memamerkan barang bekas. Tidak boleh misalnya Pasar Notoharjo justru memamerkan barang bekas yang sudah menjadi ciri khas Pasar Gading," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Kota Surakarta Daryono mengatakan pembukaan festival tersebut akan dilaksanakan bertepatan dengan 1 Suro dimana banyak orang dari luar kota berkunjung ke Solo.
"Pasar tradisional bisa menjadi destinasi wisata, dengan demikian tentunya diharapkan pasar tradisional bisa senyaman dan seindah mungkin. Selain itu ke depan bisa menjadi wisata kota," katanya.
Ia menilai pasar tradisional memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan pasar modern. Ia mengatakan keunikan pasar tradisional yang tidak dimiliki pasar modern di antaranya konten yang diperdagangkan dan adanya perbedaan karakter.
"Kalau di pasar tradisional kan ada proses tawar menawar harga. Ini yang menarik dan unik," katanya.
Pewarta : Aris Wasita Widiastuti
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Imigrasi Surakarta sosialisasikan Global Citizen of Indonesia (GCI) dan Golden Visa
09 April 2026 19:33 WIB
Halalbihalal APTISI Surakarta, Rektor UMS tekankan kerja ikhlas, profesional, dan tuntas
09 April 2026 16:56 WIB
Ahli waris pekerja rentan di Surakarta terima santunan jaminan kematian BPJS Ketenagakerjaan
17 March 2026 19:02 WIB
Pekerja proyek jasa konstruksi di Kota Surakarta wajib terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan
17 March 2026 4:36 WIB
Employee Volunteering BPJS Ketenagakerjaan Surakarta berbagi ke Panti Asuhan
13 March 2026 19:17 WIB
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Kemenkum Jateng dampingi pembinaan KI merek kolektif kerupuk keyel di Pemalang
11 April 2026 18:34 WIB
UMS gelar edukasi kesehatan di Korea, ajarkan pencegahan cedera dan sarcopenia
11 April 2026 17:12 WIB