Semarang, ANTARA JATENG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebutkan ada tiga ciri revolusi mental yang dapat menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia.
"Ketiga ciri revolusi mental itu adalah perubahan sikap kejiwaan, pola pikir, dan perilaku," kata Ganjar saat menyampaikan kuliah umum dengan tema Bela Negara di Universitas Muhammadiyah Semarang, Jumat.
Ganjar mengatakan bahwa sejak meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia masih mengalami pergolakan serta ancaman yang mengancam stabilitas persatuan dan kesatuan.
Menurut Ganjar, semua itu berawal dari pengacauan otak terlebih dulu, naka pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, telah dipaparkan apa yang disebut Revolusi Mental.
Politikus PDI Perjuangan itu mencontohkan, jika kita menemui tulisan atau informasi tentang pengeroyokan dan yang dikeroyok itu teman sendiri, maka pada akhirnya akan muncul pola pikir, emosi, tapi agar dapat mengendalikan emosi, perlu berpikir secara matang dan juga banyak membaca sehingga nanti akan ditemukan solusi penyelesaian yang tepat.
"Oleh karena itu, kalian sebagai mahasiswa, ya harus rajin membaca atau bertanya dulu, jangan asal bertindak, jangan asal ngomong," ujarnya di hadapan sekitar 2.400 mahasiswa baru Unimus Semarang.
Ganjar menambahkan, bahwa saat ini ada upaya mendorong untuk merusak ideologi negara dengan menggiring pola berpikir individualistis sehingga pola pikir semacam itu bertentangan dengan karakter bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi, budi pekerti, serta gotong royong.
"Kemudian ledakan jumlah penduduk, maka upaya pengendalian jumlah penduduk adalah penting karena kalau tidak dikendalikan hingga pengerukan sumber daya alam yang berlebihan atau merusak lingkungan untuk membuka lahan," tuturnya.
Mantan anggota DPR RI itu berharap generasi muda siap menghadapi tantangan kedepan, salah satunya terkait dengan pengelolaan sumber daya energi.
"Kalau kita perhatikan panasnya matahari, sebenarnya masih banyak energi yang bisa kita manfaatkan untuk energi listrik sehingga masyarakat tidak akan teriak-teriak protes tarif listrik naik, atau mengandalkan subsidi," ujarnya.
Hal tersebut, kata Ganjar, menjadi tantangan buat generasi muda yang akan datang karena masih banyak sumber energi yang bisa dikelola dan dimanfaatkan demi kemakmuran bangsa.
"Ketiga ciri revolusi mental itu adalah perubahan sikap kejiwaan, pola pikir, dan perilaku," kata Ganjar saat menyampaikan kuliah umum dengan tema Bela Negara di Universitas Muhammadiyah Semarang, Jumat.
Ganjar mengatakan bahwa sejak meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia masih mengalami pergolakan serta ancaman yang mengancam stabilitas persatuan dan kesatuan.
Menurut Ganjar, semua itu berawal dari pengacauan otak terlebih dulu, naka pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, telah dipaparkan apa yang disebut Revolusi Mental.
Politikus PDI Perjuangan itu mencontohkan, jika kita menemui tulisan atau informasi tentang pengeroyokan dan yang dikeroyok itu teman sendiri, maka pada akhirnya akan muncul pola pikir, emosi, tapi agar dapat mengendalikan emosi, perlu berpikir secara matang dan juga banyak membaca sehingga nanti akan ditemukan solusi penyelesaian yang tepat.
"Oleh karena itu, kalian sebagai mahasiswa, ya harus rajin membaca atau bertanya dulu, jangan asal bertindak, jangan asal ngomong," ujarnya di hadapan sekitar 2.400 mahasiswa baru Unimus Semarang.
Ganjar menambahkan, bahwa saat ini ada upaya mendorong untuk merusak ideologi negara dengan menggiring pola berpikir individualistis sehingga pola pikir semacam itu bertentangan dengan karakter bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi toleransi, budi pekerti, serta gotong royong.
"Kemudian ledakan jumlah penduduk, maka upaya pengendalian jumlah penduduk adalah penting karena kalau tidak dikendalikan hingga pengerukan sumber daya alam yang berlebihan atau merusak lingkungan untuk membuka lahan," tuturnya.
Mantan anggota DPR RI itu berharap generasi muda siap menghadapi tantangan kedepan, salah satunya terkait dengan pengelolaan sumber daya energi.
"Kalau kita perhatikan panasnya matahari, sebenarnya masih banyak energi yang bisa kita manfaatkan untuk energi listrik sehingga masyarakat tidak akan teriak-teriak protes tarif listrik naik, atau mengandalkan subsidi," ujarnya.
Hal tersebut, kata Ganjar, menjadi tantangan buat generasi muda yang akan datang karena masih banyak sumber energi yang bisa dikelola dan dimanfaatkan demi kemakmuran bangsa.