Indonesia Raih Dua Emas Tiga Perak dari Olimpiade Fisika
Minggu, 23 Juli 2017 17:39 WIB
Tahun lalu Indonesia meraih satu emas (Michael Gillbert) dan empat perak pada Olimpiade Fisika di Swiss. ( ANTARA/Indriani)
Yogyakarta, ANTARA JATENG - Indonesia yang diwakili lima siswa meraih dua
medali emas dan tiga medali perak Olimpiade Fisika Internasional (IPhO)
2017 di Yogyakarta.
Medali emas diperoleh Ferris Prima Nugraha, dan Gerry Windiarto Mohamad Dunda, sementara medali perak oleh Bonfilio Nainggolan, Faizal Husni dan Fikri Makarim Sosrianto.
"Ada ratusan medali yang kami bagikan pada ajang ini. Semua pihak sudah memberikan usaha terbaik mereka dalam kompetisi ini," kata Ketua IPhO 2017 Kamsul Abraha saat penutupan kompetisi di Yogyakarta, Minggu.
Pada kompetisi rutin tahunan yang ke-48 itu, penyelenggara membagikan 64 medali emas, 72 perak, 102 perunggu dan 73 "honorable mention" kepada sekitar 400 siswa yang menjadi peserta.
Selain itu, juga disampaikan penghargaan khusus kepada siswa dalam kategori "best theory", "best experiment" dan "absolute winner".
Penghargaan "best experiment" diberikan kepada peserta China bernama Haoyang Gao, sedangkan penghargaan "best theory" diberikan kepada Akihiro Watanabe. Peserta dari Jepang ini sekaligus menyabet penghargaan "absolute winner".
Sekretaris IPhO 2017 Syamsul Rosyid mengatakan, kualitas soal yang diberikan kepada peserta cukup baik bahkan memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi.
"Nilai yang diperoleh peserta tidak melebihi 40 dari total nilai 50 poin. Biasanya, peserta bisa memperoleh nilai 44 atau 45 pada penyelenggaraan di negara lain. Ini membuktikan bahwa soal yang diberikan memiliki karakter sebuah olimpiade," katanya.
Sementara itu Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad menyebut kompetisi ini memberikan manfaat sangat besar, tidak hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Kompetisi ini juga bisa memberikan inspirasi kepada 53 juta siswa di Indonesia bahkan di dunia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang fisika," katanya.
Hasil yang diperoleh perwakilan Indonesia tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu saat IPhO digelar di Swiss yaitu satu emas dan empat perak.
Capaian terbaik Indonesia diraih pada IPhO 2002 saat menjadi tuan rumah. Pada kompetisi yang diselenggarakan di Nusa Dua Bali itu, Indonesia meraih tiga emas dan dua perak.
Tahun depan, kompetisi itu diselenggarakan di Lisbon, Portugal.
Medali emas diperoleh Ferris Prima Nugraha, dan Gerry Windiarto Mohamad Dunda, sementara medali perak oleh Bonfilio Nainggolan, Faizal Husni dan Fikri Makarim Sosrianto.
"Ada ratusan medali yang kami bagikan pada ajang ini. Semua pihak sudah memberikan usaha terbaik mereka dalam kompetisi ini," kata Ketua IPhO 2017 Kamsul Abraha saat penutupan kompetisi di Yogyakarta, Minggu.
Pada kompetisi rutin tahunan yang ke-48 itu, penyelenggara membagikan 64 medali emas, 72 perak, 102 perunggu dan 73 "honorable mention" kepada sekitar 400 siswa yang menjadi peserta.
Selain itu, juga disampaikan penghargaan khusus kepada siswa dalam kategori "best theory", "best experiment" dan "absolute winner".
Penghargaan "best experiment" diberikan kepada peserta China bernama Haoyang Gao, sedangkan penghargaan "best theory" diberikan kepada Akihiro Watanabe. Peserta dari Jepang ini sekaligus menyabet penghargaan "absolute winner".
Sekretaris IPhO 2017 Syamsul Rosyid mengatakan, kualitas soal yang diberikan kepada peserta cukup baik bahkan memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi.
"Nilai yang diperoleh peserta tidak melebihi 40 dari total nilai 50 poin. Biasanya, peserta bisa memperoleh nilai 44 atau 45 pada penyelenggaraan di negara lain. Ini membuktikan bahwa soal yang diberikan memiliki karakter sebuah olimpiade," katanya.
Sementara itu Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad menyebut kompetisi ini memberikan manfaat sangat besar, tidak hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Kompetisi ini juga bisa memberikan inspirasi kepada 53 juta siswa di Indonesia bahkan di dunia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang fisika," katanya.
Hasil yang diperoleh perwakilan Indonesia tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu saat IPhO digelar di Swiss yaitu satu emas dan empat perak.
Capaian terbaik Indonesia diraih pada IPhO 2002 saat menjadi tuan rumah. Pada kompetisi yang diselenggarakan di Nusa Dua Bali itu, Indonesia meraih tiga emas dan dua perak.
Tahun depan, kompetisi itu diselenggarakan di Lisbon, Portugal.
Pewarta : Eka Arifa Rusqiyati
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
UMS raih Bronze Medal IPITEx 2026, ZIMO hadirkan inovasi AI untuk pantau gizi dan aktivitas remaja
17 January 2026 16:20 WIB
Hizbul Wathan Kafilah Penuntun Moh. Djazman UMS raih penghargaan Qabilah PTMA Tergiat Tahun 2025
11 January 2026 17:56 WIB
Terpopuler - NASIONAL
Lihat Juga
LKBN ANTARA perkuat publikasi percepatan rehabilitasi pascabencana Sumatera
22 January 2026 16:41 WIB
Tim Rescue Dompet Dhuafa ikut operasi pencarian korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh
22 January 2026 10:22 WIB
KPK geledah rumah Wali Kota Madiun nonaktif Maidi dan Rochim di Madiun, sita dokumen dan uang
22 January 2026 10:04 WIB