Ternyata, Rizky awalnya justru bermimpi menjadi atlet sepak bola.
"Pengen
jadi pemain sepak bola profesional punya tim gitu, tapi akhirnya karena
kaki saya enggak bisa lari, lari selama lima menit udah kram, jadi
beralih," ujar Rizky kepada ANTARA News, di Jakarta, Kamis (15/6).
Rizky
mengaku mulai tertarik dengan game sejak duduk di kelas 2 SMP. "Awalnya
cuman buat ngisi waktu luang saar pulang sekolah," kata dia.
Dia
kemudian mulai serius menekuni game saat di bangku SMA, dan menjadi
game profesional dengan bergabung bersama tim pada kelas 3 SMA.
Namun, perjalanan Rizky menjadi pro gamer tidak mulus begitu saja. Dia mengaku sempat terganjal restu kedua orang tua.
"Awalnya
tidak disetujui orang tua, mau minta izin sama mereka susah, karena
mereka belum mengerti, tapi lama kelamaan mulai mengerti," kata dia.
Kedua orang tua Rizky mulai memberikan lampu hijau ketika Rizky memenangkan beragam kejuaraan hingga ke ajang internasional.
Rizky
menjadi pemain DOTA 2 terbaik se-Asia Tenggara dengan MMR tertinggi
mencapai 9.000 MMR. Kepiawaian Rizky dalam bermain game DOTA 2 tersebut
dilirik tim asing.
Dia kemudian diajak bergabung dengan tim dari luar negeri untuk mengikuti turnamen di Malaysia.
Pengalaman
tersebut membuat dia dapat merasakan iklim kejuaraan DOTA 2 di luar
negeri yang tidak dia rasakan di Tanah Air. Menurut dia, masih banyak
hal yang perlu dilakukan untuk membangun atmosfer game profesional di
Indonesia.
Selain dari segi mental pemain yang dia sebut "cepat
merasa puas", wadah untuk berkompetisi dinilai Rizky masih kurang
dibanding dengan negara lain.
Saat ditanya dukungan dari pemerintah, dia malu-malu menjawab, "Saya enggak enak ngomongnya."
Saat ini Rizky telah mempersiapkan diri bersama timnya BOOM ID untuk mengikuti kejuaraan DOTA 2 "The International".
Dia
bersama tim berlatih dalam satu boothcamp selama 8 hingga 10 jam
sehari. Untuk mengusir kejenuhan saat bermain game dia melakukan
aktivitas lain di luar game.
"Kalau saya sih tiap sore lari," kata Rizky.
Remaja
yang mengaku telah memiliki tambatan hati itu juga tetap memiliki waktu
untuk bersosialisasi dengan teman-teman. "Kadang kalau malam
nongkrong," ujar dia.
Kini, Rizky mengaku telah memiliki
penghasilan sendiri yang terbilang cukup besar. "Saya per tahun Rp100
juta, tergantung banyaknya turnamen," kata dia.
Meski demikian, anak bungsu dari tiga bersaudara itu mengaku tetap mendapat uang jajan dari orang tua.
"Sebenarnya bukan saya yang minta, orang tua saya terlalu sayang sama anaknya," kata Rizky sambil tertawa kecil.
"Mereka senang anaknya sudah bisa menghasilkan uang, tapi mereka selalu berpesan untuk mengutamakan pendidikan," sambung dia.
Saat
ini Rizky terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Gunadarma jurusan
informatika, meski terpaksa mengambil cuti karena harus fokus dalam
kejuaraan.
Dia pun memberikan tips bagi mereka yang ingin melangkahkan kaki menjadi pemain game profesional.
"Mencapai MMR tinggi itu bisa menjadi jalan pintas pro player di DOTA karena benar-benar membuat tim pro tertarik," ujar Rizky.
"Kalau
kalian memang tahu punya bakat di situ dan mau jadi pro player coba
lebih giat. Jangan lupa juga DOTA not last forever, game itu enggak ada
abisnya. Kalau saya sih main DOTA oke, pendidikan juga oke," tambah dia.