Semarang, ANTARA JATENG- Rumah Sakit Nasional Diponegoro terus mengembangkan fasilitas kesehatan, salah satunya yang paling baru adalah layanan hemodialisis atau secara awam dikenal dengan istilah cuci darah.


"Saat ini, kebutuhan terapi hemodialisis cukup tinggi, termasuk di Semarang," kata Direktur Utama RS Nasional Diponegoro Semarang Prof Dr dr Susilo Wibowo saat peluncuran layanan hemodialisis di Semarang, Jawa Tengah, Jumat.


Mantan Rektor Universitas Diponegoro Semarang (Undip) itu menjelaskan hemodialisis adalah salah satu jenis terapi bagi pasien gagal ginjal dengan menggantikan sebagian fungsi ginjal dengan mesin dialisis.


Meski tidak sesempurna fungsi asli ginjal, kata dia, hemodialisis mampu menormalkan kembali keseimbangan cairan, membuang sisa metabolisme tubuh, menyeimbangkan asam-basa-elektronit dan mengendalikan tekanan darah.


Ia mengatakan semakin banyak masyarakat yang mengalami kerusakan ginjal atau gagal ginjal sehingga RS milik Undip itu berupaya membantu melayani kesehatan masyarakat meski belum genap dua tahun beroperasi.


"Kebutuhan terapi hemodialisa saat ini cukup tinggi. Meski sekarang sudah ada tambahan dari kami, tetap belum mampu mencakup semua. Lihat saja di RSUP dr Kariadi, pasien hemodialisa banyak, belum RS-RS lain," katanya.


Untuk tahap awal, kata Susilo, disiapkan lima unit alat hemodialisa, yakni empat unit ditempatkan di Ruang Hemodialisis di lantai dua, sementara satu unit ditempatkan di ruang ICU (intensive care unit).


Pertimbangan penempatan alat di ruang ICU, diakuinya untuk mempercepat penanganan yang masuk ICU dan membutuhkan terapi hemodialisa sehingga bisa langsung ditangani tanpa harus berpindah ruangan lain.


"Rencananya, kami sediakan 12 unit alat ini, tergantung kebutuhan. Ya, tahun ini kami targetkan 12 alat sudah bisa beroperasi sehingga bisa melayani setidaknya 30-35 pasien dalam setiap harinya," katanya.


Kepala Unit Hemodialisa Dr dr Shofa Chasani menambahkan layanan hemodialisis diberikan kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan, termasuk yang tercakup dalam layanan BPJS Kesehatan, asuransi, hingga umum.


Untuk sekali layanan hemodialisis di RS Nasional Diponegoro Semarang, setidaknya membutuhkan biaya mulai Rp900 ribu, termasuk jasa dokternya.


Sementara itu, Wakil Rektor I Undip Prof Muhammad Zainuri mengakui kehadiran layanan hemodialisis semakin melengkapi fasilitas dan layanan yang dibuka RS Nasional Diponegoro seiring dengan berkembangnya RS tersebut.


"Penambahan layanan ini merupakan salah satu bentuk kemandirian dari RS Nasional Diponegoro meski belum genap dua tahun beroperasi. Tentunya, kami berharap pelayanannya bisa semakin mencakup secara luas," katanya.

Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor :
Copyright © ANTARA 2026