BEI: Serangan Siber Tak Ganggu Pasar Modal
Senin, 15 Mei 2017 13:44 WIB
Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio. (ANTARA /Audy Alwi)
Jakarta, ANTARA JATENG - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan bahwa fenomena serangan siber di dunia berjenis Ransomware atau Malware WannaCry tidak mengganggu aktivitas di pasar modal domestik.
"Ada atau tidak ada virus itu, BEI selalu melakukan pemeriksaan sebelum sesi pembukaan perdagangan efek yang dimulai pada pukul 09.00 WIB. Setiap jam 07.00 WIB BEI rutin melakukan pemeriksaan sistem, saya juga langsung lihat, semoga aman," ujar Direktur Utama BEI Tito Sulistio di Jakarta, Senin.
Ia menambahkan bahwa sistem keamanan di pasar modal Indonesia juga berlapis dan juga telah mengadaptasi teknologi yang dimiliki oleh bursa Nasdaq. Sekitar 88 Bursa Efek di dunia menggunakan sistem Nasdaq, termasuk Indonesia.
"Sistem pengawasan yang dipakai Bursa kita, yakni JATS-NextG (Jakarta Automated Trading System Next Generation) itu dari Nasdaq. Otoritas Bursa sudah pakai sistem Nasdaq sudah lama, bukan sekarang," ucapnya.
Meski sistem elektronik di BEI relatif aman, ia mengatakan bahwa pihaknya tetap terus meningkatkan keamanannya agar investor di pasar modal domestik merasa aman dalam melakukan aktivitasnya.
"Kita terus meningkatkan pengamanannya ada atau tidak adanya serangan siber," katanya.
Sebelumnya, President of Nasdaq Adena T Friedman mengemukakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk membantu dan mendukung sistem perdagangan dan pengawasan efek di BEI sehingga dapat menunjang pertumbuhan industri pasar modal.
"Bursa Efek Indonesia adalah mitra kami dalam hal teknologi, kami bekerjasama untuk menyediakan dan mendukung sistem perdagangan dan pengawasan pasar sehingga menjadi lebih baik," ujar Adena T Friedman.
"Ada atau tidak ada virus itu, BEI selalu melakukan pemeriksaan sebelum sesi pembukaan perdagangan efek yang dimulai pada pukul 09.00 WIB. Setiap jam 07.00 WIB BEI rutin melakukan pemeriksaan sistem, saya juga langsung lihat, semoga aman," ujar Direktur Utama BEI Tito Sulistio di Jakarta, Senin.
Ia menambahkan bahwa sistem keamanan di pasar modal Indonesia juga berlapis dan juga telah mengadaptasi teknologi yang dimiliki oleh bursa Nasdaq. Sekitar 88 Bursa Efek di dunia menggunakan sistem Nasdaq, termasuk Indonesia.
"Sistem pengawasan yang dipakai Bursa kita, yakni JATS-NextG (Jakarta Automated Trading System Next Generation) itu dari Nasdaq. Otoritas Bursa sudah pakai sistem Nasdaq sudah lama, bukan sekarang," ucapnya.
Meski sistem elektronik di BEI relatif aman, ia mengatakan bahwa pihaknya tetap terus meningkatkan keamanannya agar investor di pasar modal domestik merasa aman dalam melakukan aktivitasnya.
"Kita terus meningkatkan pengamanannya ada atau tidak adanya serangan siber," katanya.
Sebelumnya, President of Nasdaq Adena T Friedman mengemukakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk membantu dan mendukung sistem perdagangan dan pengawasan efek di BEI sehingga dapat menunjang pertumbuhan industri pasar modal.
"Bursa Efek Indonesia adalah mitra kami dalam hal teknologi, kami bekerjasama untuk menyediakan dan mendukung sistem perdagangan dan pengawasan pasar sehingga menjadi lebih baik," ujar Adena T Friedman.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BRI pastikan data nasabah aman, merespons dugaan serangan ransomware
19 December 2024 9:43 WIB, 2024
Presiden Joe Biden izinkan Ukraina gunakan rudal jarak jauh AS serang Rusia
18 November 2024 8:01 WIB, 2024
Terpopuler - NASIONAL
Lihat Juga
LKBN ANTARA perkuat publikasi percepatan rehabilitasi pascabencana Sumatera
22 January 2026 16:41 WIB
Tim Rescue Dompet Dhuafa ikut operasi pencarian korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh
22 January 2026 10:22 WIB
KPK geledah rumah Wali Kota Madiun nonaktif Maidi dan Rochim di Madiun, sita dokumen dan uang
22 January 2026 10:04 WIB
Wamenkomdigi: Kantor Berita ANTARA berperan penting publikasikan program pemerintah
20 January 2026 20:09 WIB