Rupiah Menguat Menjadi Rp14.476
Selasa, 22 September 2015 10:20 WIB
Nilai Tukar Rupiah Karyawan menghitung pecahan uang dolar Amerika di Jakarta, Jumat (5/6/15). Nilai tukar rupiah terkoreksi sebesar 9 poin atau 0,07 persen ke Rp 13.290 per dolar Amerika, setelah sebelumnya bergerak di kisaran Rp 13.280-Rp 13.307 per
Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, mengatakan laju mata uang rupiah mengalami kenaikan, sebagian pelaku pasar uang masih melirik aset di negara berkembang menyusul kebijakan bank sentral Amerika Serikat yang kembali menahan suku bunga acuannya.
"Bank sentral AS (the Fed) yang menunda menaikan suku bunganya membuat laju harga komoditas berbalik positif dan berimbas pada melemahnya laju dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah," katanya.
Kendati demikian, lanjut dia, nilai tukar rupiah masih berada dalam tren pelemahan, dolar AS masih berpotensi bergerak menguat di pasar valas domestik menyusul sebagian pelaku pasar uang yang masih "wait and see" terhadap laju perekonomian domestik.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan bahwa pemerintah yang berencana memangkas proyeksi pertumbuhan 2016 menjadi 5,3 persen dari sebelumnya 5,5 persen menunjukan sikap pemerintah yang pesimistis terhadap prospek perekonomian dalam negeri.
"Tekanan bagi mata uang domestik terhadap dolar AS global masih akan membayangi," katanya.
Di sisi lain, lanjut dia, cadangan devisa menjelang akhir September yang menurun juga berpeluang menambah sentimen negatif ke pasar keuangan domestik.
"Bank sentral AS (the Fed) yang menunda menaikan suku bunganya membuat laju harga komoditas berbalik positif dan berimbas pada melemahnya laju dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah," katanya.
Kendati demikian, lanjut dia, nilai tukar rupiah masih berada dalam tren pelemahan, dolar AS masih berpotensi bergerak menguat di pasar valas domestik menyusul sebagian pelaku pasar uang yang masih "wait and see" terhadap laju perekonomian domestik.
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan bahwa pemerintah yang berencana memangkas proyeksi pertumbuhan 2016 menjadi 5,3 persen dari sebelumnya 5,5 persen menunjukan sikap pemerintah yang pesimistis terhadap prospek perekonomian dalam negeri.
"Tekanan bagi mata uang domestik terhadap dolar AS global masih akan membayangi," katanya.
Di sisi lain, lanjut dia, cadangan devisa menjelang akhir September yang menurun juga berpeluang menambah sentimen negatif ke pasar keuangan domestik.
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor : Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
35 kantor berita Asia Pasifik membahas penanganan disinformasi di Moskow
23 September 2026 21:11 WIB
Perum LKBN ANTARA galang kerja sama dengan tiga media Rusia berskala global
23 September 2026 9:00 WIB
Tim SAR kembali sisir daratan Carita hingga Pantai Anyer cari jurnalis dan kru kapal yang hilang
17 September 2026 9:31 WIB
TNI AU sebut empat tersangka penganiaya AMF hingga tewas terancam dipecat
16 September 2026 12:51 WIB
Perum LKBN ANTARA perkuat peran sebagai "gateway" Indonesia ke Asia dan dunia
15 September 2026 11:14 WIB
Korban selamat kecelakaan laut KMP Virgo dirawat sejumlah RS di Banjarmasin
15 September 2026 10:46 WIB
Basarnas mencari 129 korban KM Virgo hingga 2.600 mil laut dari titik koordinat
14 September 2026 14:40 WIB